Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Berlayar ke Langit

Sementara langit bertransisi menjadi gelap, seorang lelaki mengayuh sampannya menuju langit. Sampannya terbuat dari kayu yang dicat berwarna kuning terang dengan tulisan : Pencari Kedamaian. Sampan itu hanya muat untuk dua orang; dia dan barang bawaan berupa setelan jas lengkap dengan dasi dan perbekalan makanan. Lelaki itu mengayuh sampannya dari pantai barat menuju ke barat; barat adalah arah yang selalu orang-orang tunjuk jika ditanya di mana Tuhan berada. Dia ingin menemui Tuhan makanya dia membawa setelan jas, karena rasanya tidak sopan menemui-Nya dengan pakaian robek yang setiap hari dia pakai. Dia dapatkan setelan jas itu dari pasar loak. Warnanya sudah sedikit pudar memang, tapi si penjual bilang bahwa itu malah terlihat modis. Di pantai itu juga lelaki itu menemukan sampan kuning tadi teronggok terbalik di atas batu dengan tulisan : Sampan ini pernah digunakan seorang nelayan tua untuk menangkap ikan yang besar berkali-kali tubuhnya dan pernah dipakai seorang anak k...

Seseorang Menangis di Bahuku

apa jadinya air mata, apabila tidak ada air di muka bumi? apa jadinya air mata, apabila tidak ada mata di muka kami? apakah air mata akan tetap air mata, apabila huruf a tidak pernah ada? apakah puisi tidak akan pernah puasa, apabila huruf a memang tidak ada? bagaimana membedakan tetes air hujan dan tetes air mata apabila seseorang menangis di bahumu kala gerimis? manakah yang lebih mistis; kepala di bahumu atau tangis yang keluar darinya?

Hujan 100 | Jurnal Hujan -- Sukabumi Sedang Hujan

Hujan 100 Hujan 44 di semester dua. 9 April 2018. Ditulis 10 April 2018. Hari ini tidak hujan--kalau tidak salah. Aku kelupaan alias tidak menyadari bahwa sore hari menjelang malam kemarin terjadi hujan. Padahal ketika aku keluar mencari makan malam, jalanan becek dan sendalku basah. Aku kembali ke kosan lalu membaca pesan masuk di Line dari seorang adik kelas di Sukabumi yang berkunjung ke blog ini, dikatakannya, "Lucu ya, curhatnya Jurnal Hujan." dan Sukabumi sedang hujan dan aku balas, "Jogja masih belum hujan; aku udah pengen nulis padahal.". Tidak lama setelah itu aku baru sadar kalau Jogja baru saja hujan. Aku baru kembali setelah seminggu di Sukabumi, maklum kalau lupa-tidak sadar hujan di sini biasa aku ingat dan aku catat. Sukabumi sedang hujan. Kembali ke Sukabumi selalu berhasil memberikan banyak kejutan-kejutan baru bagiku. Setelah menjalani UTS dan minggu sebelumnya yang melelahkan, aku memutuskan pulang seminggu ke Sukabumi; memanfaatkan ...