Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Banda Neira yang Membuat Perpisahan Di Beranda Menjadi Berat

Sebelum baca, putar dulu lagunya. Ada hal spontan yang terjadi kemarin. Saat aku sedang membenahi baju ke dalam tas untuk berangkat kembali ke Jogja. Aku menggumamkan lagu Di Beranda dari Banda Neira. Padahal belakangan aku tidak sedang mendengarkan Banda Neira. Yang aku dengarkan belakangan adalah lagu Kodaline yang berjudul All I Want. Bahkan selama sebulan liburan kemarin rasanya tidak ada aku menyetel satu lagupun dari Banda Neira. Lagu ini selalu bisa menjadi lagu pengantar untuk merantau. Sungguh. Liriknya yang berkata, Kini kamarnya teratur rapi Ribut suaranya tak ada lagi Tak usah kau cari dia tiap pagi selalu berhasil membuat aku membayangkan rumah yang sepi. Tertegun adalah reaksi yang muncul setelahnya. Aku hentikan memasukkan baju ke dalam tas dan kemudian duduk di atas kasur. Aku termenung memikirkan bahwa untuk kira-kira empat sampai lima bulan ke depan aku akan kembali terbangun sendirian di dalam kamar indekos tanpa teriakan ibu jika aku bangun kesiangan,...

Merayakan Tahun Baru

Gambar
Aku selalu membayangkan malam tahun baru bersamamu. Merayakan tahun baru adalah memberi selamat kepada diriku yang telah mampu menahan rindu lebih lama lagi. Merayakan tahun baru adalah merayakan perpisahan kita setahun lalu. Aku selalu berharap entah bagaimana, kita bisa bersama di malam tahun baru. Mungkin menikmati teh hangat sambil melihat kembang api dari jauh atau bercerita sambil menghangatkan diri di depan api unggun; kamu mengoles jagung dengan mentega dan aku yang membakar. Atau sekadar duduk, menikmati gumam kesunyian malam; berdua. Saat orang lain berteriak, "Selamat tahun baru!" Sambil membakar jagung atau kembang api, aku dari sepuluh menit lalu memilih duduk di sudut kamar yang diterangi lampu berwarna kuning--warna sendu ini membuat rindu kepadamu makin paripurna--sambil mendengar Alex Turner melantunkan : "And I hope you're holding hands by New Years Eve". Dan rencana-rencana juga mimpi-mimpi untuk menuntaskan rindu ini seolah hanya menja...

Beli Domain dan Hal-hal yang Luput dari Blog Ini

Halo Warganet! Tercatat sejak kemarin tanggal 25 Januari 2018, blog ini memiliki domainnya sendiri, critcit.com. Iya, [dot] com. Ternyata membeli domain tidak semahal dalam angan-angan saya--kecuali dengan hosting dan server serta lain-lainnya. Domain ini dibeli dari Qwords.com seharga kurang-lebih Rp 150.000 sudah beserta ppn 10%. Pertama aku tau soal beli domain ini dari teman di kuliah, namanya Rina, blog dia beralamat di  aqmariinaa.com . Kemarin dia sudah sempat bilang mau update postingan di blognya selama liburan, tapi ternyata nihil. Tidak ada pertambahan posts atau perubahan interface apapun dalam blognya. Anyway, thank you Rina sudah memberitahu cara membeli domain [dot]com ini. Obrol-obrol soal kuliah, iya sekarang saya sudah berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Universitas impian saia, ahay~ Ada alasan mengapa saya kembali menggunakan blog ini. Kemarin saya menggunakan Tumblr dan postingan yang terbit dalam tahun 2018 di belakang postingan ini sejatinya adalah t...

Puisi kesedihan dan beberapa pertanyaan filosofis

Mengingatmu adalah menulis puisi puisi kesedihan; tentang patah hati tentang kehilangan tentang ditinggal-meninggalkan tentang luka-melukai Memikirkanmu adalah memikirkan pertanyaan filosofis; apa makna hidup–tanpamu bagaimana dunia sesungguhnya–tanpamu apakah aku ada–tanpamu Hadirmu mendesirkan duka pada kepalaku yang menolak lupa; yang tak berhenti bertanya tentang hadirmu–apakah kamu memang ada, atau sebuah simulakra?

Basa Basi Bisa

Yang aku tau sedari SD adalah manusia itu makhluk sosial, yang berarti manusia tidak bisa hidup sepenuhnya sendirian. Manusia butuh orang lain, ya untuk bersosialisasi. Entah untuk sekadar saling sapa, diajak ngobrol, diajak jatuh cinta, untuk dibenci atau diajak gontok-gontokan, manusia tetap butuh manusia lain. Ya kalau dipikir-pikir emang perlu sih. Masa iya kamu mau gontok-gontokan tapi tanpa orang lain. Bermodal cermin dan nantangin diri kamu sendiri. Lha sekali pukul kekencengan cermin pecah, ya bayangan kamu ilang. Gak seru dong. Dengan begitu, kayanya sih iya kalau ada yang berkata kesepian bisa membunuh. Tak punya teman ngobrol mungkin bisa bikin depresi. Rasanya gatel pengen koar-koar soal hal-hal gak penting tapi tetiba dibikin penting agar supaya hasrat mengobrol dengan orang lain itu tersampaikan. Tapi, ya, tapi. Kadang ketika udah ketemu orang lain kok rasanya malah kikuk. Malah bingung mau ngobrolin apa. Kadang ngerasa, “Ah yang mau aku obrolin itu gak penting-pen...

Adalah Aku yang Menjadi Aku (?)

Ada seseorang berkata, “Selalu suka dengan stasiun. Mungkin di kehidupan sebelumnya aku sering berada di sini.”. Aku kemudian terpikir--terlepas aku percaya atau tidak kehidupan sebelum dan sesudah yang kujalani ini ada atau tidak--di kehidupan sebelum sekarang, aku menjadi siapa? Maksudku, kalau reinkarnasi adalah selalu menjadi manusia kembali, berarti aku menjadi siapa di kehidupanku sebelumnya? Beberapa kali aku menemukan orang-orang terkenal yang “katanya” reinkarnasi seseorang hebat lainnya sebelum orang itu. Berdasarkan pada kemiripan wajah dan kecocokan antara tanggal kematian dan tanggal kelahiran, lahirlah spekulasi tersebut. Kira-kira siapa ya yang meninggal di tanggal aku dilahirkan? Menjadi sebagai apa dan siapakah aku saat itu? Atau jika mengingat akan perkataan seseorang itu, sering berada di manakah aku di kehidupanku sebelumnya? Atau kira-kira bagaimana kehidupanku sebelumnya? Coba aku pikir. Aku suka berada di taman, di antara rumput yang meranggas h...

Menjadi Kata

Aku ingin menjadi sajak-sajak yang kau suka. Sajak yang selalu kau baca ulang sejak kita bertemu. Aku ingin menjadi spasi di antara jeda kata yang kau tulis, membantumu menuliskan kata, melukiskan kita. Aku ingin menjadi titik di ujung kalimatmu, memenuhi puisimu, menggenapi puasamu akan sepimu yang semu. -Terinspirasi dari Menjadi Hantu, Aan Mansyur

Di Dini Hari

Seorang pemabuk duduk menunduk menenteng anggur merah menahan kantuk  di belakangnya bohlam kuning  terpontang-panting karena diseruduk  kepala si pemabuk Si pemabuk rebah ke tanah, sedang botolnya pecah berkeping menjadi kehidupannya.

Matahari

Seorang pemuda menggigit engsel pintu kemudian berubah menjadi kucing adalah judul berita teraneh yang aku baca sejauh ini. Lebih aneh adalah aku pernah menggigit daun jendela dan aku tidak berubah menjadi kucing, anjing, babi atau harimau bahkan hewan lainnya. Setelah membaca judul berita itu aku langsung menggigit meja belajarku. Aku berharap aku dapat berubah menjadi seekor macan, naga, wyvern atau laba-laba raksasa atau komodo atau setidaknya kadal. Tapi mana mungkin dengan menggigit kusen seseorang bisa berubah menjadi seekor binatang? Tidak logis. Aneh dan bahkan ngawur. Jelas tidak mungkin. Aku bahkan ragu apa sedang membaca koran atau membaca sebuah dongeng. Aku remas koran di tanganku, berdiri dan melemparkannya sembarang. Entah koran itu masuk ke tempat sampah, entah jatuh ke tanah atau tetiba saja dia hilang menuju entah. Aku tidak peduli. Aku muak dengan judul berita yang tiap hari semakin aneh. Atau mungkin dengan dunia yang makin hari semakin tidak jelas. Aku berj...

Hujan

Puisiku tak pernah selesai. Ia melarut dalam genangan hujan pada sudut-sudut ingatan. Menguap dan menggumpal menjadi sebuah awan kelabu di langit-langit hati, untuk kemudian luruh kembali.

Di Taman, Sore Ini

Gambar
Aku masih duduk di depan pohon apel di taman kota tempat di mana kita terakhir bertemu. Aku selalu berharap dapat menemuimu lagi di sini secara kebetulan. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan selalu mempunyai euforianya sendiri. Seperti aku yang menulis cerita ini secara kebetulan ketika hendak menulis puisi. Aku pernah menulis puisi untukmu sebelumnya; pada suatu hari, pada pukul empat pagi. Ingatan tentangmu selalu datang secara mendadak. Kau tahu, saat itu aku secara tiba-tiba bangun dari tidur hanya karena aku memimpikanmu. Puisi untukmu itu tetap aku ingat setiap kata, larik, dan baitnya. Seperti aku mengingat senyum, wajah, dan rambutmu sore itu yang tertiup angin. Aku takkan memberitahu seperti apa puisi itu. Tapi aku akan memberitahu satu hal. Setiap kali orang jatuh cinta, yang dia ingat--yang dia tulis juga jika dia penulis--adalah mengenai senyum, wajah dan sikap orang yang dia sukai. Bukan cuma aku. Tapi semua orang. Pernah seorang tukang sapu di taman ini, bebera...

Tak Ada Puisi Untukku

Tak ada puisi untukku; Aku berdiri di serakan buku-buku puisi. Buku-buku terbuka dan aku membeku. Tak ada puisi untuk perasaanku. Tak ada puisi untukku; Sajak-sajak Aan Mansyur dan Sapardi Tak pernah cukup mewakili suaraku. Serakan buku-buku tak cukup membuat serak suaraku menjadi lantang. Tak pernah ada puisi untukku; Tak pernah ada puisi untuk perasaanku. Setiap orang harus menulis puisi soal perasaannya sendiri. Juga aku, menulis puisiku untuk diriku sendiri.

Berjalan Kaki Bersamamu

Ke mana pun kita pergi, waktu selalu berlari. Ketika kau yang lari, waktu berjalan kaki –aku hanya berdiri.

Apel

Buah apel adalah hasil kebersamaan: manis, tapi sepat setelahnya. Seperti Adam dan Hawa; terpisah karena segigit apel. Aku tak sengaja menelan biji apel itu saat bersamamu. Pohon apel kini tumbuh dalam diriku. Setelahnya akan ada kelat yang membekas, tapi aku akan menantinya dan menggigit apel bersamamu –lagi.

Makan Malam

Aku duduk di rumahmu: Kau menyajikan suatu rasa di atas meja. Aku harap kau menyajikan sepotong rindu atau secuil cinta untuk merayakan pertemuan ini. Tapi yang kau sajikan adalah setangkup benci yang diisi selai berwarna marah lalu ditaburi serapah. Aku enggan menolak pemberianmu. Maka aku telan bulat-bulat sajianmu. Kemudian aku izin pamit karena galon air matamu yang aku butuhkan sudah habis.

Tiga Botol Anggur Merah

Gambar
Aku menggeletukkan geligiku–barisan gigi tak rapih yang sedikit menguning karena keseringan meminum teh. Aku tak ingin menangis, tapi aku perlu menangis. Kata orang, menangis bukanlah pertanda lemah. Menangis justru pertanda kuat. Karena kamu sudah sekuat tenaga bertahan, maka refleks menangislah yang keluar Malam ini dingin dan nyamuk-nyamuk keluar bergadang mencari makan–darah manusia. Aku tahu kalau nyamuk-nyamuk itu terbang mengelilingi kakiku. Namun aku diam saja. Aku biarkan mereka meminum darahku. Kubiarkan mereka mabuk karena kebanyakan meminum darahku. Yang mabuk bukan nyamuk-nyamuk itu. Yang mabuk adalah aku. Dua botol anggur merah tergeletak di bawah kakiku, di atas genting yang dicat berwarna merah. Merah. Warna darah. Aku ingin nyamuk-nyamuk itu ikut mabuk bersamaku, tidak peduli malam ini dingin dan gelap. Di belakangku menyala sebuah bohlam yang digantung bergoyang-goyang. Satu-satunya sumber penerangan di sini. Malam gelap. Purnama sudah lewat, bulan belum terb...