Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Ini Jam Dua Pagi, Belum Waktunya Mati

Saya sudah cukup lama tidak menulis. Dulu, saya mulai menulis sebab saya merasa menulis bisa menjadi terapi yang baik. Menulis nyatanya membantu saya untuk jujur terhadap diri sendiri. Menulis di blog seperti ini memang dilematis. Tentu, bagaimana jika suatu waktu saya terkenal dan seseorang menemukan tulisan ini dan mempostingnya di twitter, "Wow, @critcit01 dulu ternyata insecure begini ya?" sambil melampirkan screenshoot tulisan ini. Tidak apa. Suatu waktu mungkin saya akan menghapus blog ini, atau tidak. Mungkin saya akan mengarsipkannya suatu waktu nanti. Pertanyaannya, waktu seperti apa yang tepat untuk mengarsipkan catatan-catatan pribadi ini? [saya jeda menulis selama sepuluh detik] Baik. Nanti saja saya pikirkan. Untuk saat ini, saya hanya perlu mengeluarkan semua yang ada di kepala.   Saat ini seharusnya saya menggosok gigi lalu bergegas tidur, atau setidaknya membaca puisi yang dipercayakan seseorang untuk saya kurasi. Naif saya kira, sebab puisi saya sebetulnya be...

Hujan 246 | Jurnal Hujan -- Mubes Balairung, B21, dan Orang-orangnya

Jurnal Hujan | Hujan 246 | Hujan 24 di Semester Lima ditulis sekitar pukul 01.30 hingga sekitar 02.30; nanti siang UAS dan aku belum belajar Musim hujan tiba. Musim hujan kali ini datang terlambat, pun jumlah hujan yang kualami semester ini adalah yang paling sedikit di antara lima semester yang telah kulewati di Jogja [1] . Cuaca makin tidak jelas—tidak dapat diprediksi kadang. Salah seorang teman pernah bilang hal ini terjadi karena hilangnya hutan hujan di Sumatera [2] . Aku lupa bagaimana korelasi antara hilangnya hutan hujan dengan cuaca yang semakin tidak menentu, tapi hujan ini punya korelasi denganku. Pada hari kedua mubes, tanggal 6 Desember, aku pergi karena aku merasa perlu pergi dari mubes dan pulang ke kosan. Menyendiri. Iya, mungkin aku se-introvert itu sampai bisa sebegitu lelahnya bersama orang-orang meski baru satu hari satu malam. Atau mungkin ini ada hubungan dengan hal-hal yang pernah kulalui di masa lalu, misalnya kehilangan—kontak—dengan sahabat-sahabat lam...

21

Sebentar lagi usia saya 21 tahun. Sekitar dua bulan lagi. Tepat saat dunia memperingati hari puisi. Saya kira, puitik sekali saya lahir pada tanggal puisi diperingati dan dirayakan. Namun, saya kira orang-orang merayakan puisi setiap hari dengan chiffer-chiffer yang mewujud kisah hidup masing-masing. Ada yang mencari jati diri, ada yang mencari Tuhan, ada yang memikir cinta dan patah hati, dan ada yang setiap hari membayangkan--atau terbayang--oleh kematian. Tema-tema yang akan selalu abadi dalam puisi, walau ditulis dengan kebaruan-kebaruan avant-garde tiap dekadenya. Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa b...

Seandainya Semua Ini Selesai, Kira-kira Kamu Mau Pergi Ke Mana?

"Kak, nanti Juli atau Agustus aku mau ke Jogja," katanya di Whatsapp. Aku skeptis. Apa iya nanti setelah Juli segala hal-perihal pandemi yang menyebalkan ini sudah selesai? "Mau jalan-jalan," katanya sewaktu kutanya mau apa. Dia tidak secara langsung menyebut ingin kutemani, tapi dengan dia bilang begitu, aku paham maksudnya--karena kira-kira siapa lagi yang bisa dia ajak jalan-jalan di Jogja? Dia bukan orang Jogja, juga gak kuliah di sana. Jadi, aku ladeni pertanyaannya soal tiket kereta Bandung-Jogja, penginapan, dan tempat mana saja yang harus dikunjungi nanti. Aku jarang main atau jalan-jalan juga di Jogja, aku tidak tau banyak tempat. Tapi seandainya dia jadi berangkat, aku sudah punya beberapa tempat yang akan kusarankan nanti. Percakapan itu membuatku bertanya juga. Seandainya semua ini selesai, kira-kira kamu mau pergi ke mana? Tempat apa yang ingin kamu kunjungi? Terlepas dari skeptisku pandemi ini sebentar lagi selesai di Indonesia, mungkin berangan untuk ...

Enneagram:Two

Malam ini aku merasa sangat--aku tidak tau harus menggunakan kata emo/mellow/melankoli; untuk saat ini, aku malas mencari taunya. Aku kira mengisi tes-tes kepribadian kadang-kadang perlu, walaupun mungkin hasilnya tidak akurat, atau malah kadang mengada-ada. Pertanyaan-pertanyaan tes-tes kepribadian itu kadang cukup membuat berpikir dan merenung. Setidaknya itu yang aku rasakan tadi sewaktu mengisi enneagram quiz . Sewaktu membuka spotify, aku agak kebingungan mesti mendengarkan lagu apa karena rasanya playlistku tidak banyak berubah dan aku merasa lagu-lagu yang aku dengar rasanya biasa-biasa saja. Kemudian aku menemukan lagu Two dari Sleeping at Last (SaL) dalam album Atlas:Enneagram--Two mengacu pada enneagram nomor dua. Aku jadi teringat, sewaktu membahas album ini, seorang teman bilang bahwa di internet ada kuis soal enneagram untuk mengetahui tipe enneagram yang manakah dirimu. Aku tidak tau apa itu enneagram, aku kira itu sejenis rangkaian bebunyian berjumlah sembilan, makanya...

Self-criticism

Gambar
Saya kira saya sempat membaca soal self-criticism beberapa waktu lalu, entah di mana. Sebentar, saya cari dulu. Seingat saya ada di sini. [membuka instagram] Ah, iya. Baik, saya akan memutar lagu Kunto Aji yang berjudul Rehat. [membuka google, mengetik, "rehat kunto aji", lalu mengklik video berjudul "Kunto Aji - Rehat (Official Audio)"] [berdiam diri, musik terdengar dari speaker] [di menit 1:39 video musik] Begini. Coba kamu tengok post instagram ini mengenai self-criticism. View this post on Instagram Tenangkan hati, setiap manusia punya kekurangan dan pernah merasakan gagal😉 A post shared by KLEE - Layanan Psikologi (@klee.id) on Jan 28, 2020 at 4:16am PST Saya kira, kekhawatiran serta keragu-raguanmu dalam bertindak itu diakibatkan oleh hal ini. Kamu terlalu keras mengkritik dirimu sendiri. Beruntungnya, post instagram satu ini memberikan solusi atas hal itu; self-compassi...

Tentang 2019

Agak mengagetkan ketika sadar bahwa hampir sepanjang tahun 2019 aku tidak mengisi blog ini dengan tulisan apapun. Bahkan Jurnal Hujan pun berhenti. Aku melewati 2019 dengan banyak hal: Jatuh cinta, merasa senang mengetahui seperti apa rasanya punya pacar--ya, "seperti";  tidak, aku belum punya pacar Kehilangan diri sendiri, dan merasa pulang selalu menjadi jawaban atas apa yang terjadi--aku pulang lumayan sering di paruh awal 2019; Upaya-upaya yang aku lalui untuk memahami diri sendiri--seperti konsultasi dengan psikolog lewat Riliv; Mencoba membuka diri dengan orang-orang lagi; Menyadari bahwa dunia ini masih cukup luas, dan aku selama ini terkurung; Memutuskan untuk lebih tegas terhadap perasaan; Patah hati--tentu saja; seseorang bilang aku tidak bisa patah hati sebelah tangan, membingungkan tapi baiklah Menemukan teman-teman baru; (mungkin) Juga menemukan alasan-alasan baru untuk tetap hidup. Setidaknya aku menutup 2019 dengan perasaan penuh syuku...