Postingan

Ini Jam Dua Pagi, Belum Waktunya Mati

Saya sudah cukup lama tidak menulis. Dulu, saya mulai menulis sebab saya merasa menulis bisa menjadi terapi yang baik. Menulis nyatanya membantu saya untuk jujur terhadap diri sendiri. Menulis di blog seperti ini memang dilematis. Tentu, bagaimana jika suatu waktu saya terkenal dan seseorang menemukan tulisan ini dan mempostingnya di twitter, "Wow, @critcit01 dulu ternyata insecure begini ya?" sambil melampirkan screenshoot tulisan ini. Tidak apa. Suatu waktu mungkin saya akan menghapus blog ini, atau tidak. Mungkin saya akan mengarsipkannya suatu waktu nanti. Pertanyaannya, waktu seperti apa yang tepat untuk mengarsipkan catatan-catatan pribadi ini? [saya jeda menulis selama sepuluh detik] Baik. Nanti saja saya pikirkan. Untuk saat ini, saya hanya perlu mengeluarkan semua yang ada di kepala.   Saat ini seharusnya saya menggosok gigi lalu bergegas tidur, atau setidaknya membaca puisi yang dipercayakan seseorang untuk saya kurasi. Naif saya kira, sebab puisi saya sebetulnya be...

Hujan 246 | Jurnal Hujan -- Mubes Balairung, B21, dan Orang-orangnya

Jurnal Hujan | Hujan 246 | Hujan 24 di Semester Lima ditulis sekitar pukul 01.30 hingga sekitar 02.30; nanti siang UAS dan aku belum belajar Musim hujan tiba. Musim hujan kali ini datang terlambat, pun jumlah hujan yang kualami semester ini adalah yang paling sedikit di antara lima semester yang telah kulewati di Jogja [1] . Cuaca makin tidak jelas—tidak dapat diprediksi kadang. Salah seorang teman pernah bilang hal ini terjadi karena hilangnya hutan hujan di Sumatera [2] . Aku lupa bagaimana korelasi antara hilangnya hutan hujan dengan cuaca yang semakin tidak menentu, tapi hujan ini punya korelasi denganku. Pada hari kedua mubes, tanggal 6 Desember, aku pergi karena aku merasa perlu pergi dari mubes dan pulang ke kosan. Menyendiri. Iya, mungkin aku se-introvert itu sampai bisa sebegitu lelahnya bersama orang-orang meski baru satu hari satu malam. Atau mungkin ini ada hubungan dengan hal-hal yang pernah kulalui di masa lalu, misalnya kehilangan—kontak—dengan sahabat-sahabat lam...

21

Sebentar lagi usia saya 21 tahun. Sekitar dua bulan lagi. Tepat saat dunia memperingati hari puisi. Saya kira, puitik sekali saya lahir pada tanggal puisi diperingati dan dirayakan. Namun, saya kira orang-orang merayakan puisi setiap hari dengan chiffer-chiffer yang mewujud kisah hidup masing-masing. Ada yang mencari jati diri, ada yang mencari Tuhan, ada yang memikir cinta dan patah hati, dan ada yang setiap hari membayangkan--atau terbayang--oleh kematian. Tema-tema yang akan selalu abadi dalam puisi, walau ditulis dengan kebaruan-kebaruan avant-garde tiap dekadenya. Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa b...