Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Terakhir di Bumi

Setelah sekian lama tinggal diriku sendiri, kudapati dia sekarang di hadapanku. Seorang lelaki compang-camping. Keadaannya sama denganku. Berarti tinggal kami berdua laki-laki dan manusia terakhir di bumi. Tentu canggung. Sekian lama hidup di belantara sendirian, mungkin insting rimbaku bangkit. Jika dia betina mungkin kami bisa membuat kehidupan baru. Sayangnya, dia jantan. Insting rimbaku mempertahankan teritorial bangkit. Tak lama kami bertatapan, langsung kucakar dan kutikam dia dengan batu. Dia mati. Tapi muncul lagi yang lain. Kugigit dan kukoyak lehernya hingga darah mengucur. Aku meludahkan daging lehernya dan kulihat dia mati. Tapi semakin banyak lagi yang muncul. Siapa dan dari mana sebenarnya mereka berasal? Sebelum ku bisa melawan atau bahkan bertanya, mereka bilang, “Kami adalah kamu.” *** Dari atas pohon sambil mengupas kulit pisang, seekor monyet menyaksikan manusia terakhir di bumi. Monyet itu melemparkan kulit pisang ke kepala lelaki itu....

Sampah

Di supermarket ada diskon trash bag besar-besaran, 80% dari harga aslinya. Ketika sang pelayan ditanya kenapa ada diskon sampai 80% untuk trash bag, dijawabnya, "Ini musimnya untuk merasa sampah dan sialan. Orang-orang ingin membuang dirinya sendiri." Bahkan di depan supermarket ada Bank Sampah yang mau membayar orang yang membuang dirinya. Uangnya akan disumbangkan ke panti-panti dan korban bencana, tujuannya agar mereka yang merasa sampah bisa sedikit berguna bagi orang lain.

Namaku!

Gambar
Sudah baca postingan saya sebelumnya yang judulnya Masuk Majalah? Jika belum coba rada dibaca dulu, ya. Di sini :  http://critcit01.blogspot.com/2016/09/masuk-majalah.html Jadi, kemarin setelah saya tahu cerpen saya dimuat di majalah HAI, saya langsung laporan ke editornya, kak Rizki Ramadhan (@terlalurisky). Saya juga sekalian laporan kalau nama saya salah. Dan kak Rizki langsung meminta maaf berkali-kali. Yaa, bagaimanapun saya tentu harus memaafkan, karena saya sedang bahagia cerpen saya pertama kalinya dimuat. Tadi siang, kak Rizki chat saya di Line, Saya buka link tersebut dan ternyata kak Rizki memperbaiki nama saya di situ, haha. Terimakasih banyak, kak. Ada hal berharga yang saya dapat dari typo tersebut, yaitu : Ternyata dengan salah ketik nama, cerpenmu bisa dimuat di majalah sekaligus web majalahnya, dan tentunya hal itu membuat kamu lebih terkenal. Hahaha, saya bahagia.

Masuk Majalah

Gambar
HAI Magazine Edisi 37 tahun 2016 Hari itu tanggal 29 Agustus kalau tidak salah, saya mendapat info dari teman saya, Indri. Dia memberi info pada saya mengenai HAI ARTLIT--Itu yang tertulis di situsnya. Jadi, ini soal HAI Magazine yang akan membuat edisi khusus yang isinya karya-karya dari anak SMA.

Dua Bait Rahasia

Gambar
Fotonya blur, kamera hape saya kurang hebat. "Menurut Haruki Murakami dalam hal "Apakah menulis itu merupakan bakat atau bukan?", Haruki Murakami membaginya ke dalam dua bagian : 1. Berbakat, yang dianalogikan sebagai pemilik sumur; 2. Tidak berbakat, yang dianalogikan sebagai penggali sumur." Ucap kang Luthfi dalam sesi diskusi.  "Dan Haruki menempatkan dirinya sebagai penggali sumur dan itu lebih menguntungkan. Karena orang berbakat (yang memiliki sumur), dia punya sumur dan airnya sendiri dan saat air itu habis, selesai. Sedangkan seorang penggali sumur, meski dia harus bekerja lebih keras, jika sumur yang dia gali kehabisan air dia bisa mencari tanah baru dan menggalinya lagi," lanjutnya.

Di Bawah Pucuk Cemara

Gambar
1 Di bawah pucuk cemara september sudah terlalu basah untuk membuai dalam rindu 2 Kau bilang hujan sudah terlalu hujan di september ini, "Ingat saat kita bersisian di bulan september?" 3 Pada pucuk pohon basah september sudah terlalu hujan untuk berbisik soal rindu.

Jarak

Gambar
Nyatanya, Sukabumi-New York tak pernah terlihat sedekat di peta. Begitu juga kita: sedekat merangkak, tapi sejauh berkuda.

Berjalan Lebih Jauh*

Gambar
: Indri       Bangun,        Sebab pagi terlalu berharga        Tuk kita lewati      Dengan tertidur   Malamnya, aku tertidur pukul 1.20 pagi dan bangun sekitar hampir pukul tujuh pagi--mungkin sudah termasuk siang. Setelah bangun, aku langsung mencuci muka dan memilih tidak melanjutkan tidur karena teringat chat seorang teman tadi malam. Aku bertanya padanya, "Jadi gak?"

Aku, di Atap Hatimu

Gambar
Aku ingin menjadi kucing yang berdiri di atap hatimu; yang menyaksikan purnama bersinar di wajahmu.