Hujan Perasaan
"Ah bosan." Aku mendesah pelan sambil memalingkan
wajahku ke arah jendela.
Hujan. Ya, sekarang adalah musim hujan. Rasanya aku menjadi
semakin malas berada di kelas dan mendengarkan guru sejarah yang dari tadi di
depan kelas sedang bercerita dengan penuh semangat tentang cerita-cerita
sejarah yang hilang, kini menjadi cerita tentang dia yang dimarahi gurunya di
sd karena dia tidak puasa di bulan puasa. Ya, sungguh sebuah sejarah yang
hilang.
Sebenarnya aku tidak mendengar bahkan niat pun tidak untuk
mengikuti pelajaran ini, karena saat ini rasanya pikiranku sedang teralihkan
pada sebuah wajah yang sudah tidak asing bahkan setiap hari aku lihat. Wajah
sahabatku, Rena. Entahlah rasanya belakangan ini wajahnya selalu teringat
olehku. Senyumnya yang manis, wajahnya saat tertawa, wajahnya saat dia kesal.
Cantik. Sungguh wajah yang cantik.
Ah kurasa pikiranku mulai terganggu lagi. Sebentar lagi UTS
dimulai, jadi aku harus bisa fokus pada pelajaran.
Ditengah teriakan cie para murid aku dengan santainya
memotong, "Pak, izin cuci muka!" Aku mengacungkan tangan, memotong
omongan guruku yang masih menceritakan tentang dirinya yang dimarahi gurunya
ketika SMA saat bolos pelajaran untuk menemani pacarnya yang tidak enak badan
di UKS.
"Cih, mau nemenin atau emang pengen bolos tuh
guru?" Pikirku. Maaf pak, bukan apa-apa, tapi moodku saat ini sedang tidak
stabil.
Aku melangkah keluar kelas, menuju ke toilet di ujung
bangunan kelas. Sebenarnya aku keluar kelas hanya untuk mencium aroma hujan. Apalagi
di jalan menuju toilet ada taman. Selalu menjadi favorit bagiku untuk duduk di
dekat taman atau pepohonan dan tumbuh-tumbuhan untuk melihat warnanya yang
hijau terbasahi air hujan sambil mencium aromanya karena sangat menenangkan.
Aku diam sejenak di kursi yang ada di taman ini. Setidaknya,
sekarang inilah hal bisa membuatku tenang.
Aku mengutak-atik jam tanganku. Aku setel supaya bunyi dua
menit kemudian lalu aku memejamkan mata memikirkan tentang dia. Aku tersenyum
sendiri ketika mengingat suara dia ketika memanggilku. Suaranya yang
(menurutku) khas membuatku mudah mengingat dan mengenali suaranya.
“Ahh Rena.. Andai kamu tahu..” Kataku dengan suara pelan.
"Rangga." Ah rasanya bahkan kini aku bisa
mendengar suaranya dengan jelas. “Rangga.. Hey!” Rasanya suara itu menjadi
semakin terdengar jelas. “Rangga! Kamu ngomong apa tadi tentang aku?”
Ah nampaknya delusi dalam pikiranku ikut berinteraksi
denganku, “Nggak kok, cuma andai saja kamu tahu kalau aku suka sama kamu, Rena.”
Kataku dengan tersenyum
“Aku juga suka kok sama kamu.” Rasanya ada yang berbisik di
telingaku. Aku pun kembali membuka mataku dan mendapati bahwa benar Rena yang
sedang tersenyum lebar sedang berdiri di depanku.
“Rena!” Seruku.
“Rena!” Seruku.

hujan perasaan!!!!!! lope lopee dehhhh,, aku suka banget iniiiiii~
BalasHapushaha beneran kamu th sukanya.. makasih ya nggi :)
Hapuseh emang bneran romancenya dapet banget?