Balon Hitam
Cerita baru. Cerpen untuk hari perdana absen=karya di ekskul Sanggar Sastra yang ku-ketua-i. Dibuat dalam hitungan beberapa jam tadi siang. Lalu diketik ulang dengan sedikit-banyak pengeditan.
-Hope you love it!
Balon Hitam
Sejak kecil aku
menyukai balon. Balon warna-warni : merah, biru, kuning, pink, hijau, perak,
putih, bahkan polkadot apapun. Dulu ada seorang bapak, dia menjual balon helium
warna-warni dengan menggunakan sepeda. Ia mengayuh sepedanya seharian
menjajakan balonnya kesana-kemari.
Setiap sore
Bapak Penjual Balon itu berjualan di lapangan dekat rumahku. Harganya yang
murah—tidak lebih dari 5000 rupiah (aku tidak ingat pastinya)—membuat aku
membelinya hampir setiap hari.
Kenapa aku
menyukai balon? Tidak tahu. Lucu saja. Seorang gadis menyukai apapun yang terlihat lucu dan imut bukan? Belakangan aku bertanya pada
kawan-kawanku dulu yang juga suka balon, mereka berkata lucu saja melihat
bentuk balon yang bulat atau lonjong bahkan berbentuk tokoh kartun. Bahkan
mereka mengatakan bahwa lucu rasanya saat melihat balon terbang. Aneh, pikirku.
Untuk apa memiliki sesuatu (balon) jika pada akhirnya memang harus dilepaskan?
Bahkan kenapa juga aku harus antusias pada hal yang harus pergi? Bukankah semua
orang benci perpisahan?
Lalu bagaimana
dulu ketika aku kecil? Ketika kecil aku juga berpikir seperti itu, seperti
teman-temanku. Merasa lucu saat melihat balon terbang dan melihat balon yang
berwarna-warni. Setiap menjelang maghrib, saat Bapak Penjual Balon itu mau
pulang aku selalu melepaskan balon yang kubeli. Dulu pikirku : Apa yang salah
dengan balon yang terbang? Bukankah sudah menjadi tugas sebuah balon semenjak
diciptakan untuk diterbangkan? Untuk melayang melanglang langit yang menggantung
di atas sana.
Tapi tak lagi
begitu. Kemudian aku benci—tepatnya menghindari—balon. Semuanya terjadi ketika
suatu sore Bapak Penjual Balon itu memberiku balon berwarna hitam. Warna yang
tak pernah dijualnya. Katanya balon itu istimewa, berbeda dari semua balon yang
lain. Aku tidak tahu dan tidak mengerti maksudnya. Aku terima balon itu, aku yang
masih lugu berterimakasih padanya. Aku bermain dengan balon itu hingga maghrib
datang menjemput. Seperti biasa aku mau menerbangkan balon itu. Tapi bapak itu
bilang jangan. Jangan hari ini. Lalu aku bertanya kapan aku boleh menerbangkan
balon itu? Besok atau lusa atau kapanpun katanya, yang penting tidak hari itu.
Aku meng-iya-kan. Aku pamit dan pulang dengan balon hitam di tanganku. Balon
itu aku simpan di sudut kamarku.
Besok sorenya
seperti biasa aku pergi bermain ke lapangan dekat rumahku. Bapak itu tak datang
berjualan. Mungkin libur dulu, pikirku. Esoknya aku kembali lagi, tetap tidak
ada sampai seminggu. Mungkin sakit, pikirku lagi.
Kemudian
berminggu-minggu, hingga bulan berganti, ia tak kunjung datang berjualan.
Hingga aku dapat kabar dari ibuku kalau katanya Bapak Penjual Balon itu sudah
pergi—meninggal. Sore itu kulepaskan balon hitam yang diberikannya. Aku
mengerti mengapa istimewa, karena itu terakhir. Kalau bapak itu bilang terakhir
itu istimewa, apakah setiap yang istimewa itu harus selalu yang terakhir? Dan
apakah yang terakhir selalu istimewa?
Hingga hari ini,
balon itu adalah balon paling istimewa yang pernah kudapat. Dan hingga kini,
aku belum pernah membeli atau menerima atau apapun tentang balon. Aku selalu
cenderung menghindari balon. Terutama balon yang hitam, balon tanda perpisahan
itu.
***
"Ini untukmu," Kata seorang pemuda berusia 17 tahun di acara perpisahan sekolah. "Sebuah balon hitam sebagai pengingat diriku."
Aku tahu balon itu dibelinya dari tukang mainan di luar. Perpisahan SMA kenapa ada tukang mainan? "Tapi.."
"Tapi apa?" Tanyanya.
"Aku trauma pada balon hitam." Aku menunduk.
"Aku takkan pergi." Kata pemuda itu sambil tersenyum penuh makna.
Aku menatapnya, tersenyum dan mengambil balon hitam itu. Dan himgga sekarang, aku belum pernah bertemu kembali dengannya.

Komentar
Posting Komentar