Pada Suatu Hujan

Pada Suatu Hujan

Pada suatu hujan, sepasang kekasih berpegangan tangan saling menghangatkan satu sama lain. Bercanda di pinggir toko menunggu hujan reda. Si wanita mengelap air hujan yang mengalir di pipi si lelaki. Aku belum pernah seperti itu.

Pada suatu hujan, seorang wanita berjalan menerobos hujan dengan tas tangannya di kepala. Ia sudah pasrah terhadap hujan, ia biarkan tubuh dan pakaiannya basah oleh hujan. Wanita yang lain lagi berlari padahal memakai payung, ia tak rela basah oleh hujan. Ada seorang spesial yang harus ditemuinya. Pasrah dan tak rela basah oleh hujan, aku pernah seperti itu.

Pada suatu hujan, sebuah konser dilangsungkan. Seorang lelaki menatap panggung melihat kekasihnya tampil dalam paduan suara dan setelah selesai terus menatap backstage mencari sosok kekasihnya. Akulah lelaki itu--tapi wanita itu bukan kekasihku.

Pada suatu hujan, di bawah payung berwarna biru sambil diiringi lagu dari sebuah band kenamaan yang anggotanya mulai menua, sepasang kekasih menyatakan cintanya. Ada yang baru menyatakan cintanya lalu tertolak, ada yang diterima karena ternyata saling memendam rasa yang sama. Sepasang kekasih pula berciuman dibalik payung yang digunakan untuk menutupi wajah mereka, hujan bukan lagi sesuatu berarti yang harus ditutupi. Aku bukan kesemua lelaki itu.

Pada suatu hujan, sambil menyaksikan band kenamaan tampil di atas panggung seorang lelaki memayungi seorang wanita. Berdua di bawah hujan, menyanyi, melompat dan kebasahan. Akulah lelaki itu, tapi wanita itu bukan dia yang tampil bersama paduan suara, melainkan seorang kakak kelas yang minta dipayungi.

Pada suatu hujan, di samping lapangan tempat dilangsungkan konser, acara telah selesai. Aku melihatmu bersama seorang lelaki, tapi ku pura-pura tak lihat. Kau menjadi bulan-bulanan oleh perasaan. Tapi ku diam saja, bersembunyi di balik punggung teman-temanku. Sial! Payungku tertinggal di dekat kursinya tempat ia duduk sekarang.

Pada suatu hujan, aku kehilangan jejaknya. Berlari ku terseok rindu mencarinya di antara beribu tetes hujan. Menggenggam payung, harap cemas dia terguyur hujan.

Pada suatu hujan juga aku pernah berjalan bersisian dengannya, di bawah payungku. Aku relakan diriku kembali, menyusulnya, dan pulang bersamanya. Aku khawatir. Dan hujan, kau tau ceritaku. Tolong ceritakan padanya.

Pada suatu hujan, aku pernah berpikir, "Satu tetes hujan punya satu cerita. Ribuan tetes pun ada ribuan cerita. Ingatkah kamu tetes mana saja yang merupakan cerita kita? Semoga kau tak menganggap hujan hanya sekedar air jatuh."

-Pada suatu hujan setelah acara PARTIE XVI selesai(24 Feb 2016)






Karya baru--lagi-lagi soal hujan--yang jatuhnya kaya curhat dan macam surat cinta, haha. Hope you like it!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope