Terakhir di Bumi
Setelah sekian lama tinggal diriku
sendiri, kudapati dia sekarang di hadapanku. Seorang lelaki compang-camping.
Keadaannya sama denganku. Berarti tinggal kami berdua laki-laki dan manusia
terakhir di bumi.
Tentu canggung.
Sekian lama hidup di belantara
sendirian, mungkin insting rimbaku bangkit. Jika dia betina mungkin kami bisa
membuat kehidupan baru. Sayangnya, dia jantan. Insting rimbaku mempertahankan
teritorial bangkit. Tak lama kami bertatapan, langsung kucakar dan kutikam dia
dengan batu.
Dia mati. Tapi muncul lagi yang
lain. Kugigit dan kukoyak lehernya hingga darah mengucur. Aku meludahkan daging
lehernya dan kulihat dia mati.
Tapi semakin banyak lagi yang
muncul. Siapa dan dari mana sebenarnya mereka berasal?
Sebelum ku bisa melawan atau bahkan
bertanya, mereka bilang, “Kami adalah kamu.”
***
Dari atas pohon sambil mengupas
kulit pisang, seekor monyet menyaksikan manusia terakhir di bumi. Monyet itu melemparkan
kulit pisang ke kepala lelaki itu. Laki-laki itu berteriak, mencakar angin dan
melempar batu.
Rupanya kesendirian telah
membuatnya gila.
Komentar
Posting Komentar