Matahari

Seorang pemuda menggigit engsel pintu kemudian berubah menjadi kucing adalah judul berita teraneh yang aku baca sejauh ini. Lebih aneh adalah aku pernah menggigit daun jendela dan aku tidak berubah menjadi kucing, anjing, babi atau harimau bahkan hewan lainnya.

Setelah membaca judul berita itu aku langsung menggigit meja belajarku. Aku berharap aku dapat berubah menjadi seekor macan, naga, wyvern atau laba-laba raksasa atau komodo atau setidaknya kadal.

Tapi mana mungkin dengan menggigit kusen seseorang bisa berubah menjadi seekor binatang? Tidak logis. Aneh dan bahkan ngawur. Jelas tidak mungkin. Aku bahkan ragu apa sedang membaca koran atau membaca sebuah dongeng.

Aku remas koran di tanganku, berdiri dan melemparkannya sembarang. Entah koran itu masuk ke tempat sampah, entah jatuh ke tanah atau tetiba saja dia hilang menuju entah. Aku tidak peduli. Aku muak dengan judul berita yang tiap hari semakin aneh. Atau mungkin dengan dunia yang makin hari semakin tidak jelas.

Aku berjalan menuju matahari di arah timur. Matahari sangatlah besar dan menyilaukan. Tapi aku ingin menuju matahari. Aku sudah berjalan sangat jauh tapi aku rasa aku tidak mendekati matahari barang seinci pun. Ukurannya tetaplah sama seperti yang aku lihat saat mulai berjalan menujunya.

Aku mulai berlari. Aku ingin cepat sampai ke sana. Soal di sana ada apa atau lainnya aku abaikan saja dulu. Aku tidak peduli. Yang terpenting adalah aku sampai ke sana. Aku berlari sambil menatap silaunya matahari. Aku tantang matahari dengan mataku agar aku tidak kehilangan arah.

Aku rasa matahari sudah semakin besar. Artinya aku sudah semakin dekat dengan matahari!

Aku terus saja berlari. Matahari semakin besar dan terus membesar. Tapi anehnya aku tidak mendekati matahari sedikitpun.

Aku berhenti berlari.

Aku melihat sekitar dan tidak ada apapun. Mungkin aku buta. Ya sudahlah kalau aku buta. Aku bisa apa lagi? Aku duduk saja dan menikmati matahari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope