Tiga Botol Anggur Merah
Aku menggeletukkan geligiku–barisan gigi tak rapih yang sedikit menguning karena keseringan meminum teh.
Aku tak ingin menangis, tapi aku perlu menangis. Kata orang, menangis bukanlah pertanda lemah. Menangis justru pertanda kuat. Karena kamu sudah sekuat tenaga bertahan, maka refleks menangislah yang keluar
Malam ini dingin dan nyamuk-nyamuk keluar bergadang mencari makan–darah manusia. Aku tahu kalau nyamuk-nyamuk itu terbang mengelilingi kakiku. Namun aku diam saja. Aku biarkan mereka meminum darahku. Kubiarkan mereka mabuk karena kebanyakan meminum darahku.
Yang mabuk bukan nyamuk-nyamuk itu. Yang mabuk adalah aku. Dua botol anggur merah tergeletak di bawah kakiku, di atas genting yang dicat berwarna merah. Merah. Warna darah. Aku ingin nyamuk-nyamuk itu ikut mabuk bersamaku, tidak peduli malam ini dingin dan gelap.
Di belakangku menyala sebuah bohlam yang digantung bergoyang-goyang. Satu-satunya sumber penerangan di sini. Malam gelap. Purnama sudah lewat, bulan belum terbit, dan langit yang dipenuhi awan mendung membuat semuanya semakin gelap. Kelam.
Aku duduk berayun di atas buaian yang digantung di antara tiang yang menopang atap yang lebih tinggi dari atap ini. Sementara aku berayun ke depan dan belakang, aku melihat bayanganku dari siluet bohlam berayun ke kiri, ke kanan.
Yang mabuk adalah aku. Mabuk entah oleh perasaan apa.
Kemarin gadis yang aku suka mengaku kalau dia menyukaiku. Dan aku entah mengapa tidak mengerti perasaanku. Dan rasanya dia menjauh, seperti balon-balon berwarna hitam yang terbang di hari perpisahan.
Aku bahagia dia menyukaiku. Tapi aku bingung aku harus bersikap seperti apa. Aku ingin bilang padanya bahwa saat aku mendengar itu aku seperti burung merpati yang menemukan rumah untuk pulang. Tapi aku pikir aku lebih mirip seekor kucing liar.
Kucing liar, apalagi pejantan, tak pernah mau berdiam diri di suatu tempat. Dia selalu berkeliling mencari makan, bertarung memperebutkan wilayah dan mencari tempat untuk tidur.
Ada yang unik dari kucing jantan. Dia selalu berkelana, tapi saat ada manusia yang memberinya makan, memberinya tempat untuk tidur meski di teras, dan sering membelai bulunya, dia akan kembali. Jika dia telah menemukan kenyamanan, dia akan kembali ke tempat itu.
Kau kini seperti seorang manusia yang memberi makan kucing jantan itu. Kau memberinya rumah. Kau memberinya kenyamanan. Tapi sikapmu seolah si manusia itu selalu membawa sapu lidi saat melihat si kucing. Namun begitulah kucing, dia akan kembali juga ke rumah itu meski diusir.
Aku bukan kucing. Hanya seperti.
Ada lubang di hati setiap manusia. Lubang itu bisa diperkecil atau diperbesar. Tak pernah bisa ditambal dan ditutup dengan apapun. Dan sikapmu membuat lubang itu semakin besar. Lubang hitam, semakin besar ia, semakin besar gaya gravitasi menuju intinya. Lubang di hatiku juga. Dia mengisap semuanya. Perhatianku, pikiranku, tenagaku, perasaanku.
Aku lepas botol ketiga membentur atap genting,
“Lucu sekali aku,”
Aku menangkupkan kedua tanganku di wajah,
“Menjadi lemah karena perasaan.”

Originally posted by zarathustra-would-be-proud
Malam begitu dingin dan gelap. Ada yang menetes dari atas genting merah itu. Entah air mata, entah darah atau sisa anggur merah.
Komentar
Posting Komentar