Ini Jam Dua Pagi, Belum Waktunya Mati

Saya sudah cukup lama tidak menulis. Dulu, saya mulai menulis sebab saya merasa menulis bisa menjadi terapi yang baik. Menulis nyatanya membantu saya untuk jujur terhadap diri sendiri. Menulis di blog seperti ini memang dilematis. Tentu, bagaimana jika suatu waktu saya terkenal dan seseorang menemukan tulisan ini dan mempostingnya di twitter, "Wow, @critcit01 dulu ternyata insecure begini ya?" sambil melampirkan screenshoot tulisan ini.

Tidak apa. Suatu waktu mungkin saya akan menghapus blog ini, atau tidak. Mungkin saya akan mengarsipkannya suatu waktu nanti. Pertanyaannya, waktu seperti apa yang tepat untuk mengarsipkan catatan-catatan pribadi ini?

[saya jeda menulis selama sepuluh detik]

Baik. Nanti saja saya pikirkan. Untuk saat ini, saya hanya perlu mengeluarkan semua yang ada di kepala.

 

Saat ini seharusnya saya menggosok gigi lalu bergegas tidur, atau setidaknya membaca puisi yang dipercayakan seseorang untuk saya kurasi. Naif saya kira, sebab puisi saya sebetulnya belum pernah terbit di mana-mana--pernah, di beberapa antologi entah, tapi tak akan saya hitung. Sekira pukul sepuluh atau sebelas tadi saya sudah cukup mengantuk, tapi tentunya saya malah tidak memutuskan lekas tidur. Inilah akibatnya membiarkan pikiran terjaga lebih lama dibanding seharusnya.

[sampai sini, saya membaca ulang tulisan ini]

Tiba-tiba saya ingat perasaan ini. Sewaktu SMA saya beberapa kali seperti ini. Terjaga tengah malam, menulis rentetan pikiran atau apa-apa yang entah yang di blog ini. Apa tulisannya, saya pun tak ingat. Mungkin sebagian telah saya hapus--karena secara bodoh saya tidak ingat ada fitur kembalikan ke draf di blogger.

[saya menarik napas dan mengembuskannya kencang]

Saya kesepian.

(Di luar terdengar kucing yang menggeram, sepertinya kucing-kucing di kosan sini mau kawin)

Dulu saya kesepian, bahkan kini pun rasanya sama. Mungkin karenanya saya merasa menulis bisa memberi alternatif lain. Setidaknya, saya dapat berbincang dengan diri saya sendiri, seolah diri saya yang "itu" mewujud tulisan, alih-alih mewujud sesuatu yang abstrak di dalam pikiran.

[saya mengusap wajah yang saya yakin terlihat cukup gusar]

[saya menatap langit dari pintu kamar yang terbuka]

(Di langit tidak ada bintang. Malam ini berawan dan angin malam cukup dingin)

[saya menunduk di depan laptop, sambil memijat pelan tengkuk]

Saya tidak tau apa yang saya katakan.

[saya memutuskan untuk menggosok gigi terlebih dahulu]

 

(ada jeda cukup panjang, kira-kira sepuluh menit)

 

Sewaktu menggosok gigi saya teringat seorang teman beberapa waktu lalu mengirim pesan.

"Kamu ingat si A sewaktu kita lomba dulu?"

"Ingat."

"Aku follow dia di Tumblr, dia memposting ini. Aku gak tau ini apa dan kenapa, tapi di sana ada namaku."

"Dia tampak mengenaskan. Sepertinya patah hati? Omong-omong, yang dia maksud pasti bukan kamu. Pasti seseorang lain yang namanya kebetulan mirip dengan panggilanmu."

"Iya sih, tapi itu membuatku geli. Semoga dia baik-baik saja."

"Semoga."

 

Teruntuk siapapun yang mungkin--walau sepertinya tidak--membaca tulisan ini, ini bukan suicide letter. Terima kasih telah peduli.

Saya akan mengakhiri tulisan ini, mungkin melanjutkannya di tulisan lain setelah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope