Postingan

Hujan 111 | Jurnal Hujan -- Aku Depresi, Hehe

Gambar
Hujan 111 Hujan 55 di semester ini. 17 Mei 2018. THIS POST IS LIKE A DRAMA SHIT Persetan sekarang tanggal 20, bukan tanggal 17. Aku selalu tidak tepat waktu menulis jurnal ini di hari hujan turun. Tapi itu bukan masalah besar aku kira. Ada jeda yang lumayan antara hujan ke-53 dan 54. Hujan ke-53 terjadi tanggal 25 April dan hujan ke-54 terjadi tanggal 16 Mei, sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Tapi di antara jeda itu ada hujan lain, hujan abu. Gunung Merapi mengalami erupsi freatik. Entah erupsi apalah itu, tapi pagi itu aku bangun pukul lima dan melihat kepul awan di atas Merapi. Mungkin itu hanya awan biasa, karena erupsi terjadi sekitar pukul delapan pagi katanya. Tapi yang pasti aku kaget saat tahu Merapi erupsi. Oke erupsi Merapi is not a big deal  dalam tulisan ini. Dan hal-hal lain yang terjadi di antara tulisan jurnal terakhir dengan jurnal ini kiranya tidak pernah terlalu penting dari fakta bahwa aku masih hidup dan menulis jurnal ini lagi. NO! Aku tidak m...

Berlayar ke Langit

Sementara langit bertransisi menjadi gelap, seorang lelaki mengayuh sampannya menuju langit. Sampannya terbuat dari kayu yang dicat berwarna kuning terang dengan tulisan : Pencari Kedamaian. Sampan itu hanya muat untuk dua orang; dia dan barang bawaan berupa setelan jas lengkap dengan dasi dan perbekalan makanan. Lelaki itu mengayuh sampannya dari pantai barat menuju ke barat; barat adalah arah yang selalu orang-orang tunjuk jika ditanya di mana Tuhan berada. Dia ingin menemui Tuhan makanya dia membawa setelan jas, karena rasanya tidak sopan menemui-Nya dengan pakaian robek yang setiap hari dia pakai. Dia dapatkan setelan jas itu dari pasar loak. Warnanya sudah sedikit pudar memang, tapi si penjual bilang bahwa itu malah terlihat modis. Di pantai itu juga lelaki itu menemukan sampan kuning tadi teronggok terbalik di atas batu dengan tulisan : Sampan ini pernah digunakan seorang nelayan tua untuk menangkap ikan yang besar berkali-kali tubuhnya dan pernah dipakai seorang anak k...

Seseorang Menangis di Bahuku

apa jadinya air mata, apabila tidak ada air di muka bumi? apa jadinya air mata, apabila tidak ada mata di muka kami? apakah air mata akan tetap air mata, apabila huruf a tidak pernah ada? apakah puisi tidak akan pernah puasa, apabila huruf a memang tidak ada? bagaimana membedakan tetes air hujan dan tetes air mata apabila seseorang menangis di bahumu kala gerimis? manakah yang lebih mistis; kepala di bahumu atau tangis yang keluar darinya?