21
Sebentar lagi usia saya 21 tahun. Sekitar dua bulan lagi. Tepat saat dunia memperingati hari puisi. Saya kira, puitik sekali saya lahir pada tanggal puisi diperingati dan dirayakan. Namun, saya kira orang-orang merayakan puisi setiap hari dengan chiffer-chiffer yang mewujud kisah hidup masing-masing. Ada yang mencari jati diri, ada yang mencari Tuhan, ada yang memikir cinta dan patah hati, dan ada yang setiap hari membayangkan--atau terbayang--oleh kematian. Tema-tema yang akan selalu abadi dalam puisi, walau ditulis dengan kebaruan-kebaruan avant-garde tiap dekadenya.
Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa bingung mesti mengajak bicara siapa. Saya mungkin tidak sadar (saat melaluinya) kalau saya bisa diam berjam-jam tidak berbicara dengan siapapun di dalam kamar kos. Kadang beberapa reaksi keluar tidak sengaja semisal saya menonton video lucu atau video kecelakaan yang viral. Teriakan semisal, "Anjing!" yang terdengar kencang selalu berhasil membuat saya diam sebentar memikirkan kalau mungkin itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya sedari pagi sampai siang.
Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa bingung mesti mengajak bicara siapa. Saya mungkin tidak sadar (saat melaluinya) kalau saya bisa diam berjam-jam tidak berbicara dengan siapapun di dalam kamar kos. Kadang beberapa reaksi keluar tidak sengaja semisal saya menonton video lucu atau video kecelakaan yang viral. Teriakan semisal, "Anjing!" yang terdengar kencang selalu berhasil membuat saya diam sebentar memikirkan kalau mungkin itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya sedari pagi sampai siang.
Ya ampun, sekalinya kata-kata keluar dari mulut, yang keluar malah nama hewan.
Sebentar lagi saya lulus kuliah. Pertanyaan dari seorang dosen Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian selalu berputar di kepala.
"Lulus kapan, mas?" tanyanya.
"InsyaAllah, tahun depan, pak."
"Ngapain lulus?" tanyanya lagi.
Saya yang belum tahu mau apa selepas lulus hanya diam cengar-cengir sambil memasang tampang bodoh.
"Nah, kan!" katanya, berhasil menebak aku akan kebingungan.
Satu hal yang saya takutkan adalah terjebak pada rutinitas yang entah. Lalu kehilangan kawan dan perbincangan yang hangat. Setidaknya saya sudah punya perasaan seperti ini sewaktu melakukan Kerja Praktik di PT Dirgantara Indonesia bulan Juni-Agustus 2019 kemarin. Saya harus bangun pagi, berangkat bekerja, masuk pukul setengah delapan, duduk di depan komputer, mendesain pengkabelan pesawat sampai pukul empat sore sambil sesekali diselingi jalan-jalan ke hanggar produksi pesawat menggunakan sepeda. Sialnya bekerja di industri kedirgantaraan adalah mimpi masa kecil saya. Sebuah paradoks yang membuat saya berpikir berulang-ulang. Namun, setiap kali melihat video peluncuran Falcon 9, atau misalnya SpaceX Crew Dragon In-Flight Abort Test kemarin saya selalu ingin terlibat dalam perbuatan eksplorasi luar angkasa.
Ditulis pada 27 Januari 2020, jadi draf sampai diterbitkan 9 Juni 2020
Hampir lewat tiga bulan sejak 21 Maret
Selamat ulang tahun, saya
Komentar
Posting Komentar