Hujan 246 | Jurnal Hujan -- Mubes Balairung, B21, dan Orang-orangnya

Jurnal Hujan | Hujan 246 | Hujan 24 di Semester Lima
ditulis sekitar pukul 01.30 hingga sekitar 02.30; nanti siang UAS dan aku belum belajar

Musim hujan tiba. Musim hujan kali ini datang terlambat, pun jumlah hujan yang kualami semester ini adalah yang paling sedikit di antara lima semester yang telah kulewati di Jogja[1]. Cuaca makin tidak jelas—tidak dapat diprediksi kadang. Salah seorang teman pernah bilang hal ini terjadi karena hilangnya hutan hujan di Sumatera[2]. Aku lupa bagaimana korelasi antara hilangnya hutan hujan dengan cuaca yang semakin tidak menentu, tapi hujan ini punya korelasi denganku.

Pada hari kedua mubes, tanggal 6 Desember, aku pergi karena aku merasa perlu pergi dari mubes dan pulang ke kosan. Menyendiri. Iya, mungkin aku se-introvert itu sampai bisa sebegitu lelahnya bersama orang-orang meski baru satu hari satu malam. Atau mungkin ini ada hubungan dengan hal-hal yang pernah kulalui di masa lalu, misalnya kehilangan—kontak—dengan sahabat-sahabat lama, dan hubungan romantis selalu menggantung yang mengakibatkan aku takut penolakan dan selalu ragu saat sebuah relasi semakin erat. Ya, aku tidak tau sih. Mungkin itu berlebihan. Namun saat seperti itu aku selalu merasa terputus dengan orang-orang dan dunia, terjebak dalam pikiran-pikiran yang entah.

Pada perjalanan pulang itu, langit Kaliurang sudah agak gelap. Namun bagaimana lagi, aku mesti pulang. Sialnya di perjalanan pulang hujan kian deras, dan meskipun aku sudah memakai jas hujan, ternyata tetap saja aku kebasahan. Itu menyebalkan karena : 1. Pakaian yang kupakai baru selesai dicuci kemarinnya; 2. Sepatuku basah, semua orang tau sepatu basah itu menyebalkan. Tidak hanya sampai di situ, tanggal 7 Desember seusai mubes, hujan juga masih menyebalkan.

Aku tidak benci hujan. Aku suka hujan, dengan satu kondisi: aku tidak dirugikan. Lagipula hujan menyenangkan. Dulu waktu SMA, sepulang sekolah seusai hujan, aku akan berjalan melewati titik nol kilometer kotaku dalam perjalan pulang lalu berhenti. Itu perempatan. Di atas perempatan itu terbentang kabel jaringan distribusi yang selalu dihinggapi ratusan burung yang—aku tidak tau itu burung apa, tapi—selalu menarik untuk diperhatikan. Tempatku memperhatikan burung-burung itu selalu menghadap barat; karena zebra-cross ada di sebelah timur perempatan, dan aku berjalan dari utara ke selatan. Di barat, warna oranye dari matahari terbenam membuat pemandangan itu lebih indah, serta angin dan cuaca setelah hujan benar-benar membuat matahari terasa hangat.

Malam seusai mubes itu, aku sekali lagi dirugikan oleh hujan. Aku masih dalam keadaan kurang baik karena perasaan tidak karuan yang membuatku memutuskan pulang di hari kedua mubes. Hal terburuk yang mungkin digabungkan dengan perasaan yang tidak karuan adalah rasa lapar. Ah, bayangkan aku meringkuk di kamar, kelaparan, sementara pikiranku menggila.

Beruntungnya hujan malam itu tidak lama. Hujan berhenti sekitar pukul delapan. Aku pergi ke penyetan, memesan makan, makan, membayar makanan, naik ke atas motor, menyalakannya berniat kembali pulang ke kosan. Namun, saat itu entah dari mana muncul pikiran: “Aku ingin pergi ke B21.”

Hal lucu yang aku sadari dari kondisiku adalah meskipun aku menyendiri karena lelah bersama banyak orang, obatnya hanya satu: cari orang yang bisa dijangkau dan ajak dia bicara. Pembicaraan itu tidak mesti melulu soal apa yang aku alami, tapi bisa soal apapun. Hal itu yang aku harapkan dalam perjalanan ke B21, ada orang di sana yang bisa aku ajak bicara. Sebetulnya aku tidak tau apakah akan ada orang atau tidak di B21, mengingat itu malam seusai mubes dan hujan. Namun, di B21 ada orang, di sana ada Widya. Tidak lama kemudian datang Mas Jihad dan Mas Inur. Beruntung di sana ada orang.

Oya, aku suka bunga mawar. Aku memelihara satu di rumah. Mengetahui ada bunga mawar di B21 membuatku senang, apalagi terakhir aku ke B21 sebelum mubes, bunga itu sudah mulai kuncup dan hendak mekar. Ternyata malam itu bunga mawar itu mekar[3]. Bunga itu cantik sekali, apalagi sehabis hujan; sangat segar untuk dilihat. Kata salah seorang teman, belajar pertanian—khususnya pertanian alami—tidak hanya soal memenuhi kebutuhan hidup, tapi bertani adalah perjalanan spiritual. Kalau memang begitu, aku yang sudah beberapa kali memberi pupuk[4] dan kadang menyiramnya, mungkin dipanggil mawar ini ke B21. “Hei, aku sudah rekah. Kemari, mungkin senyuman juga akan merekah di wajahmu malam ini,” aku rasa mawar itu berbisik begitu entah lewat apa.

Saat sedang melamun di pintu depan, tiba-tiba Widya berkata, “Pada laper gak? Makan yuk.” Kemudian Mas Inur dan Mas Jihad menanggapi, “Makan apa?” Lalu aku yang masih kenyang berkata, “Aku sih udah makan, tapi kalau ada minum, aku bakal ikut beli.” Kemudian Mas Jihad terlihat paling antusias mencari rekomendasi tempat makan malam itu. Ya, ajakan makan setelah hujan reda memang selalu menggoda sih. Setelah beberapa waktu kebingungan mau makan apa, Widya mengajak pergi ke Sami Amih[5].

Kami pergi ke Sami Asih. Widya memesan mi goreng, Mas Jihad memesan nasi telur, Mas Inur memesan nasi orak-arik, sementara aku memesan teh hangat dan memakan dua gorengan. Malam itu menyenangkan, karena seperti yang aku katakan sebelumnya, aku mendapat teman bicara.

Setelah pembicaraan soal mubes, harga rokok yang katanya akan naik dua kali lipat, dan ajakan bermain bulu tangkis, kami pulang. Aku pulang mengantar Widya ke kosannya. Di perjalanan, aku sempat bertanya ke Widya bagaimana Balairung dan apa dia bakal tetap lanjut atau tidak.

“Kamu masih mau lanjut di Balairung?” tanyaku.

“Mau,” jawabnya.

“Sampai lulus?” tanyaku lagi.

“Yoi!” Jawabnya mantap.

Aku bertanya lagi, “Kenapa?”

“Gimana ya? Udah terlanjur sayang,” jawabnya sambil menjelaskan bagaimana B21 bisa menjadi support system yang baik baginya.

Aku benar-benar mengamini soal B21 bisa menjadi support system yang baik. Percakapan itu adalah percakapan kesekianku dengan anak bal soal B21 dan support system. Aku beberapa kali menemui orang-orang yang kebetulan sedang murung, kadang ada yang menangis, kadang ada yang kegirangan. Orang-orang di B21 tidak takut untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan, mengutip Rasya, itu kebaikan; menjadi jujur dan mengekspresikan apa yang setiap orang rasakan.

Setelah melewati perempatan Gejayan dan beberapa kali berbelok, aku sampai di kosan Widya. Widya turun dari motor, lalu aku kembali melewati lagi beberapa belokan tadi dan perempatan Gejayan. Sepanjang jalan Gejayan yang mulai lengang, aku yang tanpa jaket merasa kedinginan. Angin setelah hujan selalu segar dan sejuk. Sementara tubuhku di Gejayan, pikiranku masih berkeliling di B21. Tiba-tiba aku teringat ucapan salah seorang teman sewaktu dulu semester tiga aku ragu kembali ke B21 karena sudah beberapa waktu menghilang, “Setauku, iklim organisasi di B21 hangat kok, zal,” katanya meyakinkan. Ya, dan memang benar.

Malam ini Jogja dingin, tapi aku tau B21 akan tetap hangat—dan semoga selalu hangat apapun yang terjadi.



[1] iya, aku mencatat jumlah hujan yang aku alami setiap semester di sini

[2] Sesuatu soal angin barat dan angin timur, aku lupa

[3] Sekarang mawar itu sudah rontok, tapi bukan mati. Sepengetahuanku siklus berbunga mawar itu setiap sekitar 50 hari, lalu dari kuncup hingga rontok memakan waktu hanya sekitar dua minggu

[4] Nutrisi NPKCa, larutan warna hitam dalam botol aqua di rak sepatu yang baunya tidak enak karena salah satu bahan utamanya adalah urin kelinci

[5] Nama Warmindo/Burjo



Ditulis akhir Desember 2019, setelah Mubes Balairung
sebagai curlit (curhat literer) susulan sebelum buku mubes dan revisi-revisinya naik cetak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope