Berjalan Lebih Jauh*
: Indri
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur
Malamnya, aku tertidur pukul 1.20 pagi dan bangun sekitar hampir pukul tujuh pagi--mungkin sudah termasuk siang. Setelah bangun, aku langsung mencuci muka dan memilih tidak melanjutkan tidur karena teringat chat seorang teman tadi malam. Aku bertanya padanya, "Jadi gak?"
Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut
Malamnya dia ngechat : Ijal, pengen baca cerpen kamu :(
Katanya dia lagi bete karena gak dapat izin ke Jakarta, dan dia bilang, "Biasanya kata-kata puitis kamu itu manjur bikin aku senyum." dan entah, mungkin karena dorongan untuk menghibur aku mengubek-ngubek timeline profil Line-ku dan mendapat postinganku dari tanggal 14 Mei ini :
"Apakah kau melihat Swiper?"
"Di belakangmu!"
"Di mana?"
"Di kirimu!"
"Di mana?"
"Di hatimu! Swipper mencuri hatimu!"
Sejak kapan jarahan Swiper jadi hati? ):
Aku bercandai dia, "Itu gak diizinin soalnya gak ngajak aku."
Dia balas, "Kamu kemarin diajakin main malah gak mau."
Dan berlanjut dengan, "Jadi kamu lagi pengen main sekarang?"
Aku jawab, "Lumayan."
Esoknya,
Dia balas, "Mau main ke mana?" Karena semalam chat kami tidak menghasilkan keputusan.
"Aku juga bingung, haha." balasku.
"Cari es kelapa aja dulu, yuk."
"Ya udah ayuk."
"Tapi aku pakai sepeda, kamu ada sepeda gak?"
"Gak punya sepeda," Kataku.
"Terus gimana dong?"
"Biarin. Nanti kita ketemu terus jalan aja, sepedanya dorong gantian." Kataku setengah bercanda.
"Haha boleh tuh."
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama
Kami janji bertemu jam sebelas. Aku sampai pukul 11.10 di tempat kami bertemu, Toko Snack Prima di daerah Jalur (Jalan Lingkar Selatan) Baros. Kukira dia bakal telat karena pakai sepeda, tapi nyata terbalik, aku yang telat.
"Aku udah muter dua kali lho." Kata dia setelah aku menyeberang untuk menghampirinya.
Singkat cerita kami telah mendapatkan kelapa muda yang kami cari.
"Setelah ini mau ke mana?" Tanya dia.
"Gak tau. Aku les setengah tiga, sekarang baru setengah satu."
"Jalan-jalan lagi, yuk. Ke McD, yuk."
"Ayuk."
"Eh, serius mau jalan? Kan jauh. Kamu les bakal keburu gak?"
"Ayo. Pasti keburu kok."
Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah
"Tau gak, aku tuh nyari temen yang bisa diajak jalan gak jelas kaya gini." Kata dia.
"Wah iya? Sama dong, haha. Aku sering tau jalan sendiri kaya gini."
Waktu itu kami memilih lewat jalan Lamping yang menanjak dan ada kuburan cina. Jadi, daerah itu mungkin semacam bukit, karena emang tinggi dan kami bergantian dorong sepeda sambil nanjak. Kami mengobrol sambil kadang terpotong oleh tarikan napas yang ngosngosan karena capek menanjak.
Dan setelah melewati kantor polsek yang berarti sudah sampai di puncak bukit, kami dapat melihat pemandangan kota yang menakjubkan, "Kamu kalau naik gunung gini kali ya rasanya pas nyampe puncak?" Pikirku. Dia memang suka berpetualang, mendaki gunung.
Setelah menuruni bukit itu sekitar pukul 13.10, "Kita masih setengah perjalanan lho." Kataku.
"Kamu les bakal keburu gak?"
"Aku yakin pasti keburu."
Singkatnya, di perjalanan kami mampir dulu ke toko buku dengan niat ikut ngadem. Lalu sekita pukul 14.00 kami sampai di McD dan memesan Cola Float.
Pukul 14.20 kami berpisah. Langit mulai mendung saat itu. Aku pergi ke tempat les dengan wajah berantakan karena keringat, dan dia pulang ke rumah dengan menggowes sepedanya.
Berjalan, bagiku merupakan pengalaman yang seru--entah sendiri atau bersama kawan. Berjalan memberi banyak detail baru terhadap lingkungan sekitar dan tentang sikap seseorang. Seperti sehari sebelumnya juga saat aku berjalan dari sekolah menuju Masjid Agung bersama Fariz (powpow).
Lain kali, jalan-jalan lagi, ya!
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama
*Judul lagu Banda Neira
Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur
Malamnya, aku tertidur pukul 1.20 pagi dan bangun sekitar hampir pukul tujuh pagi--mungkin sudah termasuk siang. Setelah bangun, aku langsung mencuci muka dan memilih tidak melanjutkan tidur karena teringat chat seorang teman tadi malam. Aku bertanya padanya, "Jadi gak?"
Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut
Malamnya dia ngechat : Ijal, pengen baca cerpen kamu :(
Katanya dia lagi bete karena gak dapat izin ke Jakarta, dan dia bilang, "Biasanya kata-kata puitis kamu itu manjur bikin aku senyum." dan entah, mungkin karena dorongan untuk menghibur aku mengubek-ngubek timeline profil Line-ku dan mendapat postinganku dari tanggal 14 Mei ini :
"Apakah kau melihat Swiper?"
"Di belakangmu!"
"Di mana?"
"Di kirimu!"
"Di mana?"
"Di hatimu! Swipper mencuri hatimu!"
Sejak kapan jarahan Swiper jadi hati? ):
Aku bercandai dia, "Itu gak diizinin soalnya gak ngajak aku."
Dia balas, "Kamu kemarin diajakin main malah gak mau."
Dan berlanjut dengan, "Jadi kamu lagi pengen main sekarang?"
Aku jawab, "Lumayan."
Esoknya,
Dia balas, "Mau main ke mana?" Karena semalam chat kami tidak menghasilkan keputusan.
"Aku juga bingung, haha." balasku.
"Cari es kelapa aja dulu, yuk."
"Ya udah ayuk."
"Tapi aku pakai sepeda, kamu ada sepeda gak?"
"Gak punya sepeda," Kataku.
"Terus gimana dong?"
"Biarin. Nanti kita ketemu terus jalan aja, sepedanya dorong gantian." Kataku setengah bercanda.
"Haha boleh tuh."
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama
Kami janji bertemu jam sebelas. Aku sampai pukul 11.10 di tempat kami bertemu, Toko Snack Prima di daerah Jalur (Jalan Lingkar Selatan) Baros. Kukira dia bakal telat karena pakai sepeda, tapi nyata terbalik, aku yang telat.
"Aku udah muter dua kali lho." Kata dia setelah aku menyeberang untuk menghampirinya.
Singkat cerita kami telah mendapatkan kelapa muda yang kami cari.
"Setelah ini mau ke mana?" Tanya dia.
"Gak tau. Aku les setengah tiga, sekarang baru setengah satu."
"Jalan-jalan lagi, yuk. Ke McD, yuk."
"Ayuk."
"Eh, serius mau jalan? Kan jauh. Kamu les bakal keburu gak?"
"Ayo. Pasti keburu kok."
Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah
![]() |
| Gak yakin sih emang jalan sejauh 9,2 km atau nggak. Kayanya google maps sedikit lebay. |
"Tau gak, aku tuh nyari temen yang bisa diajak jalan gak jelas kaya gini." Kata dia.
"Wah iya? Sama dong, haha. Aku sering tau jalan sendiri kaya gini."
Waktu itu kami memilih lewat jalan Lamping yang menanjak dan ada kuburan cina. Jadi, daerah itu mungkin semacam bukit, karena emang tinggi dan kami bergantian dorong sepeda sambil nanjak. Kami mengobrol sambil kadang terpotong oleh tarikan napas yang ngosngosan karena capek menanjak.
Dan setelah melewati kantor polsek yang berarti sudah sampai di puncak bukit, kami dapat melihat pemandangan kota yang menakjubkan, "Kamu kalau naik gunung gini kali ya rasanya pas nyampe puncak?" Pikirku. Dia memang suka berpetualang, mendaki gunung.
Setelah menuruni bukit itu sekitar pukul 13.10, "Kita masih setengah perjalanan lho." Kataku.
"Kamu les bakal keburu gak?"
"Aku yakin pasti keburu."
Singkatnya, di perjalanan kami mampir dulu ke toko buku dengan niat ikut ngadem. Lalu sekita pukul 14.00 kami sampai di McD dan memesan Cola Float.
Pukul 14.20 kami berpisah. Langit mulai mendung saat itu. Aku pergi ke tempat les dengan wajah berantakan karena keringat, dan dia pulang ke rumah dengan menggowes sepedanya.
Berjalan, bagiku merupakan pengalaman yang seru--entah sendiri atau bersama kawan. Berjalan memberi banyak detail baru terhadap lingkungan sekitar dan tentang sikap seseorang. Seperti sehari sebelumnya juga saat aku berjalan dari sekolah menuju Masjid Agung bersama Fariz (
Lain kali, jalan-jalan lagi, ya!
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama
*Judul lagu Banda Neira

Komentar
Posting Komentar