Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ceracau

21

Sebentar lagi usia saya 21 tahun. Sekitar dua bulan lagi. Tepat saat dunia memperingati hari puisi. Saya kira, puitik sekali saya lahir pada tanggal puisi diperingati dan dirayakan. Namun, saya kira orang-orang merayakan puisi setiap hari dengan chiffer-chiffer yang mewujud kisah hidup masing-masing. Ada yang mencari jati diri, ada yang mencari Tuhan, ada yang memikir cinta dan patah hati, dan ada yang setiap hari membayangkan--atau terbayang--oleh kematian. Tema-tema yang akan selalu abadi dalam puisi, walau ditulis dengan kebaruan-kebaruan avant-garde tiap dekadenya. Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa b...

Seandainya Semua Ini Selesai, Kira-kira Kamu Mau Pergi Ke Mana?

"Kak, nanti Juli atau Agustus aku mau ke Jogja," katanya di Whatsapp. Aku skeptis. Apa iya nanti setelah Juli segala hal-perihal pandemi yang menyebalkan ini sudah selesai? "Mau jalan-jalan," katanya sewaktu kutanya mau apa. Dia tidak secara langsung menyebut ingin kutemani, tapi dengan dia bilang begitu, aku paham maksudnya--karena kira-kira siapa lagi yang bisa dia ajak jalan-jalan di Jogja? Dia bukan orang Jogja, juga gak kuliah di sana. Jadi, aku ladeni pertanyaannya soal tiket kereta Bandung-Jogja, penginapan, dan tempat mana saja yang harus dikunjungi nanti. Aku jarang main atau jalan-jalan juga di Jogja, aku tidak tau banyak tempat. Tapi seandainya dia jadi berangkat, aku sudah punya beberapa tempat yang akan kusarankan nanti. Percakapan itu membuatku bertanya juga. Seandainya semua ini selesai, kira-kira kamu mau pergi ke mana? Tempat apa yang ingin kamu kunjungi? Terlepas dari skeptisku pandemi ini sebentar lagi selesai di Indonesia, mungkin berangan untuk ...

Enneagram:Two

Malam ini aku merasa sangat--aku tidak tau harus menggunakan kata emo/mellow/melankoli; untuk saat ini, aku malas mencari taunya. Aku kira mengisi tes-tes kepribadian kadang-kadang perlu, walaupun mungkin hasilnya tidak akurat, atau malah kadang mengada-ada. Pertanyaan-pertanyaan tes-tes kepribadian itu kadang cukup membuat berpikir dan merenung. Setidaknya itu yang aku rasakan tadi sewaktu mengisi enneagram quiz . Sewaktu membuka spotify, aku agak kebingungan mesti mendengarkan lagu apa karena rasanya playlistku tidak banyak berubah dan aku merasa lagu-lagu yang aku dengar rasanya biasa-biasa saja. Kemudian aku menemukan lagu Two dari Sleeping at Last (SaL) dalam album Atlas:Enneagram--Two mengacu pada enneagram nomor dua. Aku jadi teringat, sewaktu membahas album ini, seorang teman bilang bahwa di internet ada kuis soal enneagram untuk mengetahui tipe enneagram yang manakah dirimu. Aku tidak tau apa itu enneagram, aku kira itu sejenis rangkaian bebunyian berjumlah sembilan, makanya...

Self-criticism

Gambar
Saya kira saya sempat membaca soal self-criticism beberapa waktu lalu, entah di mana. Sebentar, saya cari dulu. Seingat saya ada di sini. [membuka instagram] Ah, iya. Baik, saya akan memutar lagu Kunto Aji yang berjudul Rehat. [membuka google, mengetik, "rehat kunto aji", lalu mengklik video berjudul "Kunto Aji - Rehat (Official Audio)"] [berdiam diri, musik terdengar dari speaker] [di menit 1:39 video musik] Begini. Coba kamu tengok post instagram ini mengenai self-criticism. View this post on Instagram Tenangkan hati, setiap manusia punya kekurangan dan pernah merasakan gagal😉 A post shared by KLEE - Layanan Psikologi (@klee.id) on Jan 28, 2020 at 4:16am PST Saya kira, kekhawatiran serta keragu-raguanmu dalam bertindak itu diakibatkan oleh hal ini. Kamu terlalu keras mengkritik dirimu sendiri. Beruntungnya, post instagram satu ini memberikan solusi atas hal itu; self-compassi...

Tentang 2019

Agak mengagetkan ketika sadar bahwa hampir sepanjang tahun 2019 aku tidak mengisi blog ini dengan tulisan apapun. Bahkan Jurnal Hujan pun berhenti. Aku melewati 2019 dengan banyak hal: Jatuh cinta, merasa senang mengetahui seperti apa rasanya punya pacar--ya, "seperti";  tidak, aku belum punya pacar Kehilangan diri sendiri, dan merasa pulang selalu menjadi jawaban atas apa yang terjadi--aku pulang lumayan sering di paruh awal 2019; Upaya-upaya yang aku lalui untuk memahami diri sendiri--seperti konsultasi dengan psikolog lewat Riliv; Mencoba membuka diri dengan orang-orang lagi; Menyadari bahwa dunia ini masih cukup luas, dan aku selama ini terkurung; Memutuskan untuk lebih tegas terhadap perasaan; Patah hati--tentu saja; seseorang bilang aku tidak bisa patah hati sebelah tangan, membingungkan tapi baiklah Menemukan teman-teman baru; (mungkin) Juga menemukan alasan-alasan baru untuk tetap hidup. Setidaknya aku menutup 2019 dengan perasaan penuh syuku...

-

"Bagaimana bisa aku kehilangan kalau memiliki saja belum pernah?" Tanyamu padaku. Diam-diam ada syukur yang kuucap, beruntung aku belum memilikimu, jadi aku takkan kehilanganmu . Tapi tentu saja aku tidak benar-benar bersyukur soal tidak memilikimu.

-

Lucu mengetahui bagaimana perasaan bisa berkurang sedikit demi sedikit karena tidak adanya interaksi. Tapi lebih lucu lagi mengetahui kok bisa perasaan tetap bertahan meski tidak ada interaksi.

Hening adalah Bising Paling Pekak

Gambar
I sat for about half an hour until I realized Alyssa had left. That was the day I learned that silence is really loud. Deafening. I think maybe my dad spent his whole life trying to avoid silence. When you have silence, it's hard to keep stuff out. It's all there. And you can't get rid of it. I use to be able to get rid of things. Banish them. But I knew, after that day, it wouldn't be so easy anymore. -James Kutipan di atas diambil dari serial The End Of The F***ing World. Beberapa waktu lalu aku dihantui perasaan bersalah. Aku membuat seseorang marah padaku. Aku sangat menyesali kejadian itu. Kejadian itu terjadi saat aku bertemu dengannya setelah sekian lama. Padahal dia adalah salah satu alasan aku bersemangat pulang ke Sukabumi. Perasaan bersalah itu benar-benar menghantuiku. Dalam keheningan, ia membuatku merutuki diri sendiri. Dan kutipan ini benar; hening adalah bising paling pekak . Semoga dia benar-benar sudah memaafkan aku. Aku memang pantas dimara...

Kesepian Memaksaku Menulis

Gambar
Aku mengatakan pada postingan  Jurnal Hujan 111  bahwa aku depresi karena kesepian berdasarkan artikel dari  Tirto.id . Dan beruntungnya aku bahwa menulis bisa dan masih menjadi salah satu pelarian aku dari merasa sepi dan depresi. Lucunya ternyata hal itu memang benar. Sebuah tulisan dari The School of Life yang berjudul The Desire To Write  menyebutkan bahwa keinginan seseorang untuk menulis muncul salah satunya karena dia merasa sendiri. Kita menulis karena tidak ada orang di sekitar yang akan mendengar. Kita mulai menyajikan ingatan dan emosi kita pada kertas dan menyebarluaskannya karena teman-teman kita tidak bisa diganggu untuk mendengarkan, karena pasangan kita sedang asyik dan karena ini begitu menyakitkan sejak terakhir orang memberi kita waktu penuh perhatian--singkatnya, karena kita sangat kesepian. (Diterjemahkan secara manual sebisa-bisanya dari artikel tersebut) Artikel tersebut juga memiliki versi videonya. Baca saja artikelnya atau tontonla...

Adsense Membuatku Serakah

Gambar
Pada akhirnya kebanyakan hal yang dilakukan tiap orang berorientasi pada uang. Salah seorang pelukis--aku lupa namanya--temannya Ugo Untoro yang pernah aku wawancarai, berkata, " Seni untuk seni berlaku pada saat pembuatan karya seni tersebut, setelahnya kita tetap harus bisa menjadi pedagang yang baik," Kira-kira begitu. Aku pun begitu. Bahkan awalnya aku memang berpikir bahwa jika aku menulis aku bisa menghasilkan uang. Makanya kemudian aku membuat blog pertamaku sewaktu kelas tujuh. Tapi aku tak pernah mengira bahwa menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan tapi melelahkan. Apalagi setelah aku bergabung menjadi wartawan di BPPM Balairung. Mencari isu, menyusun outline , membuat pertanyaan, membuat janji wawancara, mendengarkan rekaman untuk dijadikan transkrip, menulis berita, sampai editing. Semuanya melelahkan. Tapi begitulah, pada akhirnya menulis tetap menyenangkan. Dan tentu saja aku masih berpikir bisa menghasilkan uang dari menulis. Beberapa saat setelah aku m...

Ambil Jeda, Rehatlah Dulu

Gambar
Kiranya mengambil jeda dan beristirahat sejenak memang pilihan bagus dalam kehidupan yang serba cepat ini. Mendengar lagu atau mungkin menonton film atau mengobrol atau melakukan hal lain di luar kegiatan rutin yang terjadwal dan terstruktur bisa membantu mengembalikan mood dan mendinginkan pikiran yang kadung ruwet. Menonton film bagus misalnya. Setiap orang pasti pernah memiliki perasaan seperti tercerahkan setelah menonton film. Seperti yang dikatakan di film Janji Joni : "Gak sedikit dari orang-orang ini yang hidupnya berubah setelah menonton sebuah film.". Malam ini, aku baru saja menonton film Black Panther dan tetiba saja aku merasa moodku kembali membaik, menjadi cerah dan ingin menulis. Rasanya aku ingin melakukan banyak hal bagus. Ada banyak hal baik yang bisa aku lakukan. Menyelesaikan tugas, belajar lebih banyak, menulis novel, atau sekurang-kurangnya menulis ceracauan ini. Ini tentu bukan pertama kalinya perasaan seperti ini muncul. Perasaan seperti ini ...

Hujan 111 | Jurnal Hujan -- Aku Depresi, Hehe

Gambar
Hujan 111 Hujan 55 di semester ini. 17 Mei 2018. THIS POST IS LIKE A DRAMA SHIT Persetan sekarang tanggal 20, bukan tanggal 17. Aku selalu tidak tepat waktu menulis jurnal ini di hari hujan turun. Tapi itu bukan masalah besar aku kira. Ada jeda yang lumayan antara hujan ke-53 dan 54. Hujan ke-53 terjadi tanggal 25 April dan hujan ke-54 terjadi tanggal 16 Mei, sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Tapi di antara jeda itu ada hujan lain, hujan abu. Gunung Merapi mengalami erupsi freatik. Entah erupsi apalah itu, tapi pagi itu aku bangun pukul lima dan melihat kepul awan di atas Merapi. Mungkin itu hanya awan biasa, karena erupsi terjadi sekitar pukul delapan pagi katanya. Tapi yang pasti aku kaget saat tahu Merapi erupsi. Oke erupsi Merapi is not a big deal  dalam tulisan ini. Dan hal-hal lain yang terjadi di antara tulisan jurnal terakhir dengan jurnal ini kiranya tidak pernah terlalu penting dari fakta bahwa aku masih hidup dan menulis jurnal ini lagi. NO! Aku tidak m...

Banda Neira yang Membuat Perpisahan Di Beranda Menjadi Berat

Sebelum baca, putar dulu lagunya. Ada hal spontan yang terjadi kemarin. Saat aku sedang membenahi baju ke dalam tas untuk berangkat kembali ke Jogja. Aku menggumamkan lagu Di Beranda dari Banda Neira. Padahal belakangan aku tidak sedang mendengarkan Banda Neira. Yang aku dengarkan belakangan adalah lagu Kodaline yang berjudul All I Want. Bahkan selama sebulan liburan kemarin rasanya tidak ada aku menyetel satu lagupun dari Banda Neira. Lagu ini selalu bisa menjadi lagu pengantar untuk merantau. Sungguh. Liriknya yang berkata, Kini kamarnya teratur rapi Ribut suaranya tak ada lagi Tak usah kau cari dia tiap pagi selalu berhasil membuat aku membayangkan rumah yang sepi. Tertegun adalah reaksi yang muncul setelahnya. Aku hentikan memasukkan baju ke dalam tas dan kemudian duduk di atas kasur. Aku termenung memikirkan bahwa untuk kira-kira empat sampai lima bulan ke depan aku akan kembali terbangun sendirian di dalam kamar indekos tanpa teriakan ibu jika aku bangun kesiangan,...

Beli Domain dan Hal-hal yang Luput dari Blog Ini

Halo Warganet! Tercatat sejak kemarin tanggal 25 Januari 2018, blog ini memiliki domainnya sendiri, critcit.com. Iya, [dot] com. Ternyata membeli domain tidak semahal dalam angan-angan saya--kecuali dengan hosting dan server serta lain-lainnya. Domain ini dibeli dari Qwords.com seharga kurang-lebih Rp 150.000 sudah beserta ppn 10%. Pertama aku tau soal beli domain ini dari teman di kuliah, namanya Rina, blog dia beralamat di  aqmariinaa.com . Kemarin dia sudah sempat bilang mau update postingan di blognya selama liburan, tapi ternyata nihil. Tidak ada pertambahan posts atau perubahan interface apapun dalam blognya. Anyway, thank you Rina sudah memberitahu cara membeli domain [dot]com ini. Obrol-obrol soal kuliah, iya sekarang saya sudah berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Universitas impian saia, ahay~ Ada alasan mengapa saya kembali menggunakan blog ini. Kemarin saya menggunakan Tumblr dan postingan yang terbit dalam tahun 2018 di belakang postingan ini sejatinya adalah t...

Basa Basi Bisa

Yang aku tau sedari SD adalah manusia itu makhluk sosial, yang berarti manusia tidak bisa hidup sepenuhnya sendirian. Manusia butuh orang lain, ya untuk bersosialisasi. Entah untuk sekadar saling sapa, diajak ngobrol, diajak jatuh cinta, untuk dibenci atau diajak gontok-gontokan, manusia tetap butuh manusia lain. Ya kalau dipikir-pikir emang perlu sih. Masa iya kamu mau gontok-gontokan tapi tanpa orang lain. Bermodal cermin dan nantangin diri kamu sendiri. Lha sekali pukul kekencengan cermin pecah, ya bayangan kamu ilang. Gak seru dong. Dengan begitu, kayanya sih iya kalau ada yang berkata kesepian bisa membunuh. Tak punya teman ngobrol mungkin bisa bikin depresi. Rasanya gatel pengen koar-koar soal hal-hal gak penting tapi tetiba dibikin penting agar supaya hasrat mengobrol dengan orang lain itu tersampaikan. Tapi, ya, tapi. Kadang ketika udah ketemu orang lain kok rasanya malah kikuk. Malah bingung mau ngobrolin apa. Kadang ngerasa, “Ah yang mau aku obrolin itu gak penting-pen...

Adalah Aku yang Menjadi Aku (?)

Ada seseorang berkata, “Selalu suka dengan stasiun. Mungkin di kehidupan sebelumnya aku sering berada di sini.”. Aku kemudian terpikir--terlepas aku percaya atau tidak kehidupan sebelum dan sesudah yang kujalani ini ada atau tidak--di kehidupan sebelum sekarang, aku menjadi siapa? Maksudku, kalau reinkarnasi adalah selalu menjadi manusia kembali, berarti aku menjadi siapa di kehidupanku sebelumnya? Beberapa kali aku menemukan orang-orang terkenal yang “katanya” reinkarnasi seseorang hebat lainnya sebelum orang itu. Berdasarkan pada kemiripan wajah dan kecocokan antara tanggal kematian dan tanggal kelahiran, lahirlah spekulasi tersebut. Kira-kira siapa ya yang meninggal di tanggal aku dilahirkan? Menjadi sebagai apa dan siapakah aku saat itu? Atau jika mengingat akan perkataan seseorang itu, sering berada di manakah aku di kehidupanku sebelumnya? Atau kira-kira bagaimana kehidupanku sebelumnya? Coba aku pikir. Aku suka berada di taman, di antara rumput yang meranggas h...

Namaku!

Gambar
Sudah baca postingan saya sebelumnya yang judulnya Masuk Majalah? Jika belum coba rada dibaca dulu, ya. Di sini :  http://critcit01.blogspot.com/2016/09/masuk-majalah.html Jadi, kemarin setelah saya tahu cerpen saya dimuat di majalah HAI, saya langsung laporan ke editornya, kak Rizki Ramadhan (@terlalurisky). Saya juga sekalian laporan kalau nama saya salah. Dan kak Rizki langsung meminta maaf berkali-kali. Yaa, bagaimanapun saya tentu harus memaafkan, karena saya sedang bahagia cerpen saya pertama kalinya dimuat. Tadi siang, kak Rizki chat saya di Line, Saya buka link tersebut dan ternyata kak Rizki memperbaiki nama saya di situ, haha. Terimakasih banyak, kak. Ada hal berharga yang saya dapat dari typo tersebut, yaitu : Ternyata dengan salah ketik nama, cerpenmu bisa dimuat di majalah sekaligus web majalahnya, dan tentunya hal itu membuat kamu lebih terkenal. Hahaha, saya bahagia.

Masuk Majalah

Gambar
HAI Magazine Edisi 37 tahun 2016 Hari itu tanggal 29 Agustus kalau tidak salah, saya mendapat info dari teman saya, Indri. Dia memberi info pada saya mengenai HAI ARTLIT--Itu yang tertulis di situsnya. Jadi, ini soal HAI Magazine yang akan membuat edisi khusus yang isinya karya-karya dari anak SMA.

Dua Bait Rahasia

Gambar
Fotonya blur, kamera hape saya kurang hebat. "Menurut Haruki Murakami dalam hal "Apakah menulis itu merupakan bakat atau bukan?", Haruki Murakami membaginya ke dalam dua bagian : 1. Berbakat, yang dianalogikan sebagai pemilik sumur; 2. Tidak berbakat, yang dianalogikan sebagai penggali sumur." Ucap kang Luthfi dalam sesi diskusi.  "Dan Haruki menempatkan dirinya sebagai penggali sumur dan itu lebih menguntungkan. Karena orang berbakat (yang memiliki sumur), dia punya sumur dan airnya sendiri dan saat air itu habis, selesai. Sedangkan seorang penggali sumur, meski dia harus bekerja lebih keras, jika sumur yang dia gali kehabisan air dia bisa mencari tanah baru dan menggalinya lagi," lanjutnya.

Berjalan Lebih Jauh*

Gambar
: Indri       Bangun,        Sebab pagi terlalu berharga        Tuk kita lewati      Dengan tertidur   Malamnya, aku tertidur pukul 1.20 pagi dan bangun sekitar hampir pukul tujuh pagi--mungkin sudah termasuk siang. Setelah bangun, aku langsung mencuci muka dan memilih tidak melanjutkan tidur karena teringat chat seorang teman tadi malam. Aku bertanya padanya, "Jadi gak?"