21
Sebentar lagi usia saya 21 tahun. Sekitar dua bulan lagi. Tepat saat dunia memperingati hari puisi. Saya kira, puitik sekali saya lahir pada tanggal puisi diperingati dan dirayakan. Namun, saya kira orang-orang merayakan puisi setiap hari dengan chiffer-chiffer yang mewujud kisah hidup masing-masing. Ada yang mencari jati diri, ada yang mencari Tuhan, ada yang memikir cinta dan patah hati, dan ada yang setiap hari membayangkan--atau terbayang--oleh kematian. Tema-tema yang akan selalu abadi dalam puisi, walau ditulis dengan kebaruan-kebaruan avant-garde tiap dekadenya. Saya kira saya pun begitu. Belakangan tema abadi puisi yang menjelma kisah hidup saya adalah: kesepian dan keterasingan. Menjadi semakin tua (untuk menghindari kata "dewasa", karena katanya dewasa tidak bisa diukur lewat usia), saya merasa kesepian adalah hantu masa kecil yang membuat saya susah tidur lalu berlari mencari perlindungan dalam pelukan hangat ayah atau ibu. Di usia ini, saya kadang malah merasa b...