Dua Bait Rahasia
![]() |
| Fotonya blur, kamera hape saya kurang hebat. |
"Menurut Haruki Murakami dalam hal "Apakah menulis itu merupakan bakat atau bukan?", Haruki Murakami membaginya ke dalam dua bagian : 1. Berbakat, yang dianalogikan sebagai pemilik sumur; 2. Tidak berbakat, yang dianalogikan sebagai penggali sumur." Ucap kang Luthfi dalam sesi diskusi.
"Dan Haruki menempatkan dirinya sebagai penggali sumur dan itu lebih menguntungkan. Karena orang berbakat (yang memiliki sumur), dia punya sumur dan airnya sendiri dan saat air itu habis, selesai. Sedangkan seorang penggali sumur, meski dia harus bekerja lebih keras, jika sumur yang dia gali kehabisan air dia bisa mencari tanah baru dan menggalinya lagi," lanjutnya.
Sore tadi saya pergi ke Analog Koffiehuis--sebuah kafe di jalan Sriwijaya, Sukabumi--untuk menghadiri acara Poeticcino, bedah buku Dua Bait Rahasia yang ditulis oleh guru, pelatih ekskul SAGA (Sanggar Sastra SMA Tiga)--ekskul saya--dan diterbitkan di Malaysia.
Jujur saja, saya jarang bahkan cenderung tidak pernah--pernah sekali, dua kali mungkin--pergi ke kafe atau tempat nongkrong seperti itu. Dan ini kali pertama saya datang ke Analog Koffiehuis.
Sedikit penggambaran mengenai kafe ini, pertama saya saat masuk saya merasa seperti disuguhkan senja. Cat temboknya yang berwarna kuning serta jingga dan lampu-lampu bohlam kuningnya membuat ruangan menjadi temaram--Baik, sebetulnya saya kurang paham mengenai desain interior ruangan.
![]() |
| Buku pemberian kang Khoer untuk saya. Tapi ini hasil foto orang lain. Oh iya, kapan lagi diberi buku oleh penulisnya langsung? |
Tadinya saya akan datang hanya bersama anak-anak SAGA, karena saya lupa mengajak teman-teman yang lain. Tapi untung ada dua teman lain yang bisa ikut ; Indri dan Ilham.
Acara bedah buku Dua Bait Rahasia dimulai pukul empat sore. Oh iya, poster di atas adalah poster lama yang asalnya acara memang akan dimulai pukul tiga.
Acara dibuka oleh Wahyu, murid kang Khoer di SMA Pelita kemudian dilanjutkan pembacaan puisi. Pertama oleh Rizki yang membaca Bunga Krisan, kedua oleh Andwi yang membaca Dua Bait Rahasia, ketiga oleh Zainal yang membaca Kapulaga Lorca. Ketiganya adalah puisi karya kang Khoer dalam bukunya, Dua Bait Rahasia.
Acara dibuka oleh Wahyu, murid kang Khoer di SMA Pelita kemudian dilanjutkan pembacaan puisi. Pertama oleh Rizki yang membaca Bunga Krisan, kedua oleh Andwi yang membaca Dua Bait Rahasia, ketiga oleh Zainal yang membaca Kapulaga Lorca. Ketiganya adalah puisi karya kang Khoer dalam bukunya, Dua Bait Rahasia.
Kemudian acara diserahkan kepada kang Dena sebagai moderator dalam acara diskusi. Panelis pertama, kang Luthfi Mardiansyah berbicara mengenai proses kreatif dan benang merah antara buku sebelumnya, Tidak Ada Lagi Emily dan Dua Bait Rahasia.
"Saya kira bakat menulis Khoer adalah takdir," Ucap kang Luthfi, "Seperti yang kita tahu dari kata pengantar buku pertama, Khoer beruntung bapaknya adalah seorang pemulung sehingga dia bisa mendapat bahan bacaan setiap harinya. Coba bapaknya pengusaha, mungkin sekarang dia bukan penulis, tapi pedagang."
Berbeda dari buku pertama yang lebih tentang diri dan penderitaan serta rasanya sendiri, buku kedua menurut kang Luthfi lebih lebih luas lagi, yaitu mengenai apa yang kang Khoer alami dan juga apa yang orang lain alami.
![]() |
| Dari kiri : Luthfi, Dena, Khoer. Ketiganya adalah anggota dari Sarekat Penyair Sukabumi, termasuk kang Regi. |
"Jadi intinya, puisi itu curhat. Menurut saya Khoer sebetulnya meneruskan pekerjaan bapaknya sebagai pemulung. Hanya medannya beda, Khoer pemulung dalam kata. Dia memilih dan memilah kata dan membuang yang memang tidak bisa dipakai. Dan Khoer memulung momen-momen puitik dalam kehidupan sehari-hari dan membuatnya menjadi tidak hanya pengalaman pribadinya tapi orang lain juga bisa merasakan." Ucap kang Luthfi.
Soal bagaimana cara mengasah kepekaan dalam menangkap momen-momen puitik, ada dua tips utama yang diberikan, yaitu : 1. Intensitas, seringnya menulis dan membaca dapat meningkatkan kepekaan; 2. Pengalaman, dengan mengalami lama-kelamaan akan terbiasa. Seperti membaca buku filsafat, awalnya mungkin pusing, tapi setelah mengalami dan kemudian terbiasa akhirnya bisa jadi membaca filsafat hanya seperti membaca komik.
"Kembali pada kata pengantar di buku Dua Bait Rahasia di mana Khoer mensejajarkan ketulusan dengan kemerdekaan, menurut saya, bagi khoer menulis itu pertama adalah bentuk ketulusan hatinya dan kedua, menulis itu kemerdekaan bagi dia."
Bagaimana buku kang Khoer bisa terbit di Malaysia?
Berawal ketika kang Khoer mengikuti MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) dan bertemu dengan salah seorang penyair dari Malaysia. Kemudian di facebook, Penyair Malaysia itu membagikan info mengenai penerbitan buku dan kang Khoer mencoba mengirim naskah ke sana dan alhasil diterbitkan bahkan selalu dimintai naskah lagi.
"Saya tidak tahu motif saya menulis. Mungkin seperti seorang pemulung yang tidak ingin menjadi pemulung." Kata kang Khoer saat berbicara mengenai kenapa beliau lebih memilih menjadi penulis.
Kemudian setelah diskusi dan tanya-jawab selesai pada sekitar pukul tujuh malam, acara ditutup dengan pembacaan puisi Penghancuran oleh kang Khoer sendiri.
Selain Andwi, ada juga Syifa yang membacakan puisi. Saya tidak ingat judul puisinya yang mana,
Acara yang sangat seru dan menarik meski sangat sederhana. Semoga entah saya, anak-anak SAGA atau anda pembaca blog ini juga suatu saat nanti bisa membuat acara bedah buku seperti ini.






Komentar
Posting Komentar