Masuk Majalah

HAI Magazine Edisi 37 tahun 2016

Hari itu tanggal 29 Agustus kalau tidak salah, saya mendapat info dari teman saya, Indri. Dia memberi info pada saya mengenai HAI ARTLIT--Itu yang tertulis di situsnya. Jadi, ini soal HAI Magazine yang akan membuat edisi khusus yang isinya karya-karya dari anak SMA.



Kak Rizki, CP yang ternyata
salah satu editor di HAI Magazine
Katanya dia dapat info itu dari temannya di Jakarta. Dalam hati saya berkata, "Gila! Kesempatan bagus!" Kemudian saya bagikan info itu kepada teman-teman SAGA.

Saya tentu ingin ikut mencoba submit karya. Kemudian kang Khoer menyarankan saya untuk submit karya Beragam Rasa Yang Tampak Saat Mahesa Melihat Cermin--yang memang belum saya publish di blog ini--karena temanya kebetulan cocok tentang remaja.


Tanggal 30 Agustus, saya belum sempat mengirimkan karya saya tersebut. Alasannya karena saya belum sempat mengeditnya lagi dan saya sedikit ragu apa memang HAI Magazine ada edisi khusus yang isinya karya-karya begitu?

Kemudian atas saran Indri, pada tanggal 31 Agustus saya hubungi CPnya, yaitu kak Rizki. Katanya edisi ini memang khusus, beliau bilang, "Coba langsung kirim aja ke a**obry@gmail.com (saya takut menyebutkan e-mail orang lain dengan jelas melanggar etika) yang ternyata setelah saya ketahui namanya, itu adalah e-mail salah satu editor lain di HAI Magazine.

Tapi kemudian saya tanya lagi mengenai syarat dan ketentuan cerpennya, dan ternyata maksimal 1500 kata. Sedangkan cerpen saya itu 1700 kata! Selama kurang lebih tiga jam saya berfokus untuk menghapus 200 kata yang saya takut akan merusak cerpen saya tersebut.

Setelah saya selesai mengedit cerpen tersebut dan mengubah judulnya menjadi Mahesa, saya langsung submit. Tapi tidak melalui e-mail melainkan lewat link yang ada di gambar, karena saya rasa lebih mudah lewat situ.


Seminggu berlalu

Tanggal 9 September kemarin saya teringat mengenai karya yang saya submit di HAI Magazine, "Diterbitkan tidak ya?" pikirku. Saya akhirnya pergi ke tukang koran sebelum les untuk membeli HAI Magazine, tapi ternyata edisi itu bukan edisi khusus mengenai karya. Tapi tetap saya beli.

Di rumah, saya buka-buka majalah itu, dan isinya sangat menarik. Dan di bagian belakang saya mendapati bahwa edisi khusus karya itu baru akan terbit hari senin depan. Saya jadi tak sabar.


Hari Ini

Saya ingat bahwa majalah HAI edisi terbaru ada mulai senin tanggal 12 September, tapi karena itu tanggal merah, ada kemunginan tukang koran tidak berjualan dan saya juga terlalu malas untuk ke luar rumah dan memilih menghabiskan waktu di rumah--dengan makan daging.

Tadi siang, di antara sela waktu nyate di rumah Aliv--teman sekelas saya--saya pergi ke kota (pusat kota?). Awalnya untuk mengambil daging di sekolah dari hasil Tarbiyatul Qurban, tapi karena banyak teman yang menitip jajanan akhirnya teman saya Fariz yang mengambil daging ke sekolah dan saya membelikan jajanan titipan mereka di Dago--bukan Dago Bandung.

Daripada saya lama menunggu pesanan Takoyaki saya memilih berjalan sedikit, mencari tukang koran. Di tukang koran itu saya menemukan HAI Magazine edisi khusus tersebut. Saya buka di bagian awal karya-karya yang di awalnya adalah karya cerpen.

Halaman pertama, Editor's Choice #1 ternyata bukan cerpen saya. Cerpen kedua, ternyata bukan juga. Cerpen ketiga, ternyata bukan juga.
Cerpen saya yang dimuat

Saya tidak tahu ada berapa cerpen yang dimuat. Saya sudah pasrah sekiranya cerpen saya memang tidak dimuat. Saya buka lagi halaman selanjutnya, ternyata ada cerpen lagi dan saat saya lihat judulnya : Mahesa. Dalam hati, "Edas! Ieu cerpen urang!" dan buru-buru aku beli majalah itu. Untungnya saya tidak refleks teriak--karena saya memang sedikit pendiam--saat itu.
Puisi Radya yang dimuat


Saya tentu sangat bahagia. Apalagi teman saya Radya ternyata diam-diam ikut submit setelah saya beri tahu info edisi khusus itu, dan puisinya menjadi Editor's Choice #1. Tsadest!


Berita ini pun saya sebar ke teman-teman kelas saya, teman-teman SAGA dan beberapa teman lainnya. Dari kang Khoer akhirnya berita itu menyebar kepada beberapa guru di sekolah saya juga kepada guru saya--Perempuan Embun--yang menjadi teman diskusi mengenai karya saat SMP.

Ini pengalaman pertama saya ada karya yang masuk ke media. Tapi ada suatu kekecewaan bagi saya, yaitu nama saya yang typo meski tidak menjadi masalah karena nama belakangnya tetap benar. Kecewa lain adalah karya Radya menjadi Editor's Choice #1 di puisi sedangkan karya cerpen saya tidak. Tapi.. Tak masalah. Itu berarti memang masih banyak yang jauh lebih bagus di atas saya. Saya memang harus lebih banya belajar lagi.
Tidak apa deh, kak

Saya selalu berharap saya dan anda, pembaca bisa menjadi lebih baik lagi dalam bidang yang kita geluti masing-masing. Juga pada teman-teman di SAGA, semoga karya-karyanya bisa menyusul masuk majalah skala nasional.

Salam.




Oh iya, cerpen saya yang berjudul Mahesa ini akan dijadikan monolog yang rencananya akan ditampilkan nanti saat acara PEKERTIE bulan Oktober mendatang di sekolah saya dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda. Monolog ini akan diperankan oleh Andwi, adik kelas saya di sekolah yang merupakan anggota SAGA. Patut ditunggu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope