Banda Neira yang Membuat Perpisahan Di Beranda Menjadi Berat


Sebelum baca, putar dulu lagunya.
Ada hal spontan yang terjadi kemarin. Saat aku sedang membenahi baju ke dalam tas untuk berangkat kembali ke Jogja. Aku menggumamkan lagu Di Beranda dari Banda Neira. Padahal belakangan aku tidak sedang mendengarkan Banda Neira. Yang aku dengarkan belakangan adalah lagu Kodaline yang berjudul All I Want. Bahkan selama sebulan liburan kemarin rasanya tidak ada aku menyetel satu lagupun dari Banda Neira.

Lagu ini selalu bisa menjadi lagu pengantar untuk merantau. Sungguh. Liriknya yang berkata,

Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi

selalu berhasil membuat aku membayangkan rumah yang sepi.

Tertegun adalah reaksi yang muncul setelahnya. Aku hentikan memasukkan baju ke dalam tas dan kemudian duduk di atas kasur. Aku termenung memikirkan bahwa untuk kira-kira empat sampai lima bulan ke depan aku akan kembali terbangun sendirian di dalam kamar indekos tanpa teriakan ibu jika aku bangun kesiangan, tanpa sarapan nasi goreng, mi atau lainnya dan teh hangat buatan ibu.

Kemudian aku melihat kalender dan mencari-cari tanggal merah strategis yang memungkinkanku mencuri waktu untuk pulang.

Mungkin terdengar cengeng. Apalagi ketika bus sudah mau berangkat dan aku pamit pada ibu. Aku sudah berencana berpamitan sambil mengucap, "Ma, pergi dulu, ya. Mau mencari ilmu. Doakan semoga mudah." menjadi urung saat tiba-tiba ibu menasihati beberapa hal, seperti jangan bangun kesiangan. Rasanya aku tak kuat berlama-lama pamitan.

Setelah di dalam bus dan bus mulai melaju, aku melihat ibu melambaikan tangannya.

Usahlah engaku pertanyakan
Ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu
Dia pasti pulang ke rumah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope