Hujan 91 | Jurnal Hujan -- Kesempatan
Hujan 91
Hujan 35 di semester dua. 17 Maret 2018.
Hari ini hujan seharian dan aku tidur seharian.
Jurnal hujan sebelumnya aku tulis waktu hujan ke-32. Berarti sudah terlewat dua hujan lainnya dan aku baru menulis lagi. Tidak ada alasan apa-apa, mungkin karena baru sempat. Juga hari ini akhirnya jadi hari yang nyantai gara-gara hujan. Aku cuma keluar dari lingkungan kosan sekali, waktu siang, cari makan.
Sekarang pukul 19.15. Hujan deras lagi dan aku kelaparan. Belakangan aku cuma makan dua kali setiap hari. Bukan maksud mendramatisir kehidupan mahasiswa ngekos, tapi nyatanya memang hal ini terjadi juga padaku. Seorang kakak tingkat dari tempatku, Sukabumi pernah bilang di awal masa kuliah : "Urang mah dahar ngan dua kali unggal poe." (Aku makan cuma dua kali tiap hari). Lalu hal itu memang terjadi juga padaku.
Bukan karena aku menghemat secara ekstrim. Karena buktinya berat badan aku malah bertambah. Tapi karena memang sempatnya cuma makan dua kali.
Menyempatkan diri dalam satu kegiatan nampaknya menjadi lebih rumit sekarang. Misalnya menyempatkan membuat laporan praktikum (laprak) di sela-sela jadwal. Atau ya hari ini saja misalnya. Aku cuma tidur. Memang aku sedang butuh istirahat, tapi di satu sisi aku merasa harusnya aku bisa melakukan sesuatu, pergi ke luar, membuat laprak atau apa saja.
Penyesalan soal tidak bisa memakai waktu luang secara baik juga aku rasakan beberapa hari lalu. Malam hari Selasa ke Rabu kemarin, untuk pertama kalinya aku bergadang di sekre B21, sekre BPPM Balairung sampai jam setengah empat menyelesaikan tulisan karena sudah deadline. Sampai setengah empat itu pun karena editornya ketiduran lalu karena aku dan Putri (anak Sejarah) yang sekelompok dalam penulisan kali ini sudah lelah, ya sudah kami tinggalkan editor kami.
Bukan hanya karena harus bergadang unutk menyelesaikan tulisan, tapi juga karena Rabu itu aku harus mengumpulkan dua laporan yang sama panjangnya. Jam setengah tujuh pagi setelah menyelesaikan tulisan itu aku merasa kurang enak badan di kosan dan aku putuskan bolos praktikum. Percayalah bolos praktikum itu ribet. Kalau sampai gak dapet jadwal pengganti langsung dapet D, itu yang denger dari temen-temen. Tapi alhamdulillah tulisan selesai dan bisa naik terbit juga besoknya aku bisa langsung ngeganti praktikum walau harus bolos teori.
Oya, tulisannya bisa diakses di sini : http://www.balairungpress.com/2018/03/tanah-liat-dan-upaya-ugo-membantu-seniman-muda/
Bicara soal kesempatan, aku berencana megajak seseorang menghabiskan waktunya seharian denganku. Orang ini bisa siapa saja. Semoga saja dia mau.
Hujan 35 di semester dua. 17 Maret 2018.
Hari ini hujan seharian dan aku tidur seharian.
Jurnal hujan sebelumnya aku tulis waktu hujan ke-32. Berarti sudah terlewat dua hujan lainnya dan aku baru menulis lagi. Tidak ada alasan apa-apa, mungkin karena baru sempat. Juga hari ini akhirnya jadi hari yang nyantai gara-gara hujan. Aku cuma keluar dari lingkungan kosan sekali, waktu siang, cari makan.
Sekarang pukul 19.15. Hujan deras lagi dan aku kelaparan. Belakangan aku cuma makan dua kali setiap hari. Bukan maksud mendramatisir kehidupan mahasiswa ngekos, tapi nyatanya memang hal ini terjadi juga padaku. Seorang kakak tingkat dari tempatku, Sukabumi pernah bilang di awal masa kuliah : "Urang mah dahar ngan dua kali unggal poe." (Aku makan cuma dua kali tiap hari). Lalu hal itu memang terjadi juga padaku.
Bukan karena aku menghemat secara ekstrim. Karena buktinya berat badan aku malah bertambah. Tapi karena memang sempatnya cuma makan dua kali.
Menyempatkan diri dalam satu kegiatan nampaknya menjadi lebih rumit sekarang. Misalnya menyempatkan membuat laporan praktikum (laprak) di sela-sela jadwal. Atau ya hari ini saja misalnya. Aku cuma tidur. Memang aku sedang butuh istirahat, tapi di satu sisi aku merasa harusnya aku bisa melakukan sesuatu, pergi ke luar, membuat laprak atau apa saja.
Penyesalan soal tidak bisa memakai waktu luang secara baik juga aku rasakan beberapa hari lalu. Malam hari Selasa ke Rabu kemarin, untuk pertama kalinya aku bergadang di sekre B21, sekre BPPM Balairung sampai jam setengah empat menyelesaikan tulisan karena sudah deadline. Sampai setengah empat itu pun karena editornya ketiduran lalu karena aku dan Putri (anak Sejarah) yang sekelompok dalam penulisan kali ini sudah lelah, ya sudah kami tinggalkan editor kami.
Bukan hanya karena harus bergadang unutk menyelesaikan tulisan, tapi juga karena Rabu itu aku harus mengumpulkan dua laporan yang sama panjangnya. Jam setengah tujuh pagi setelah menyelesaikan tulisan itu aku merasa kurang enak badan di kosan dan aku putuskan bolos praktikum. Percayalah bolos praktikum itu ribet. Kalau sampai gak dapet jadwal pengganti langsung dapet D, itu yang denger dari temen-temen. Tapi alhamdulillah tulisan selesai dan bisa naik terbit juga besoknya aku bisa langsung ngeganti praktikum walau harus bolos teori.
Oya, tulisannya bisa diakses di sini : http://www.balairungpress.com/2018/03/tanah-liat-dan-upaya-ugo-membantu-seniman-muda/
Bicara soal kesempatan, aku berencana megajak seseorang menghabiskan waktunya seharian denganku. Orang ini bisa siapa saja. Semoga saja dia mau.
Komentar
Posting Komentar