Kesepian Memaksaku Menulis

Aku mengatakan pada postingan Jurnal Hujan 111 bahwa aku depresi karena kesepian berdasarkan artikel dari Tirto.id. Dan beruntungnya aku bahwa menulis bisa dan masih menjadi salah satu pelarian aku dari merasa sepi dan depresi. Lucunya ternyata hal itu memang benar.

Sebuah tulisan dari The School of Life yang berjudul The Desire To Write menyebutkan bahwa keinginan seseorang untuk menulis muncul salah satunya karena dia merasa sendiri.
Kita menulis karena tidak ada orang di sekitar yang akan mendengar. Kita mulai menyajikan ingatan dan emosi kita pada kertas dan menyebarluaskannya karena teman-teman kita tidak bisa diganggu untuk mendengarkan, karena pasangan kita sedang asyik dan karena ini begitu menyakitkan sejak terakhir orang memberi kita waktu penuh perhatian--singkatnya, karena kita sangat kesepian. (Diterjemahkan secara manual sebisa-bisanya dari artikel tersebut)
Artikel tersebut juga memiliki versi videonya.


Baca saja artikelnya atau tontonlah videonya karena sudah lama sejak aku membaca dan memahami sepenuhnya isi artikel itu.

Mohon maaf atas artikel tidak karuan ini. Intinya kesepian adalah salah satu alasan mengapa banyak orang suka menulis, begitu juga aku.

A better world might, from this perspective, be one in which we wanted a little less ardently to be writers – because we had collectively grown ever so slightly better at listening and making ourselves heard. Literature’s loss might, in the end, be humanity’s gain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Call-I-The-Scope