Enneagram:Two
Malam ini aku merasa sangat--aku tidak tau harus menggunakan kata emo/mellow/melankoli; untuk saat ini, aku malas mencari taunya. Aku kira mengisi tes-tes kepribadian kadang-kadang perlu, walaupun mungkin hasilnya tidak akurat, atau malah kadang mengada-ada. Pertanyaan-pertanyaan tes-tes kepribadian itu kadang cukup membuat berpikir dan merenung. Setidaknya itu yang aku rasakan tadi sewaktu mengisi enneagram quiz.
Sewaktu membuka spotify, aku agak kebingungan mesti mendengarkan lagu apa karena rasanya playlistku tidak banyak berubah dan aku merasa lagu-lagu yang aku dengar rasanya biasa-biasa saja. Kemudian aku menemukan lagu Two dari Sleeping at Last (SaL) dalam album Atlas:Enneagram--Two mengacu pada enneagram nomor dua. Aku jadi teringat, sewaktu membahas album ini, seorang teman bilang bahwa di internet ada kuis soal enneagram untuk mengetahui tipe enneagram yang manakah dirimu. Aku tidak tau apa itu enneagram, aku kira itu sejenis rangkaian bebunyian berjumlah sembilan, makanya SaL membuat album darinya. Waktu itu aku merasa cukup aneh sampai ada kuis perihal album tersebut.
Sampai tadi, sewaktu aku iseng mencari kuis enneagram itu di google; hingga aku menulis ini, aku belum mencari tau apa itu enneagram. Setidaknya dari apa yang aku jumpai, sepertinya enneagram adalah rangkaian tipe-tipe kepribadian berjumlah sembilan. Aku ingat beberapa, nomor dua itu "Lover", nomor empat itu "Individualist", nomor lima "Investigator", dan nomor sembilan "Peacemaker".
Aku ingat sewaktu membahas album ini aku bilang aku sempat mendengarkan semua lagunya, dan Two aku rasa paling cocok untuk kudengar. Pendapat ini keliru karena aku tidak benar-benar mendengar semua lagunya--aku mendengarnya, hanya saja aku tidak meresapinya. Aku tidak benar-benar memperhatikan melodi lagunya, aku tidak benar-benar membaca liriknya. Apa yang membuatku merasa Two menjadi cocok adalah karena bias perasaanku sewaktu membaca lirik pembukanya dikaitkan dengan pengalamanku dalam sebuah hubungan. Itu membuatku membaca keseluruhan liriknya dan jatuh pada penilaian soal kecocokan.
Bagaimana hubungan kami sekarang, itu cerita lain. Tapi aku cukup memberitau kalau kami masih sering melakukan kontak. Jarak kami jauh, jadi hanya kontak lewat whatsapp yang bisa dilakukan. Aku menyerah padanya. Perempuan ini cukup sering membuatku patah hati, tapi bodohnya aku--seperti potongan lirik tadi--selalu mengenyampingkan itu semua dan selalu berusaha mendengarkan cerita-ceritanya. Lama-kelamaan aku merasa kalau ini bukan iklim hubungan yang baik buatku sebagai seorang yang jatuh cinta. Karenanya aku sering merasa kalah dan tidak pantas dicintai. Aku hanya ingin cintaku dibalas--aku cukup sering mendapati cinta bertepuk sebelah tangan dari dulu, dan aku mulai bosan. Aku kira dia bisa memberikan afeksi yang sama padaku. Tapi ketidakjelasan hubungan kami mungkin yang membuat segalanya jadi serba nanggung. Akhirnya belum lama ini kami berbicara, dan dia bilang "tidak". Dia merasa tidak cukup baik, apalagi karena "tragedi" terakhir yang ia alami. Aku tidak tau keseluruhan ceritanya karena aku merasa tidak sanggup mendengar cerita itu, tapi lelaki yang kemarin mendekatinya itu ternyata bangsat.
Kabar baiknya. kami masih berteman baik--dari dulu memang begitu. Oya, dia juga sudah sejak lama berhenti melakukan self-harm, dan semoga selamanya begitu.
Sial. Alih-alih menuliskan perihal renunganku sewaktu mengisi kuis tersebut, aku malah menuliskan involuntary memory yang muncul saat mengingat lagu Two. Tulisan ini bisa jadi lebih baik lagi seandainya aku banting setir menulis soal involuntary memory dan efek proust. Tapi, aku kira itu bahasan lain.
Sewaktu membuka spotify, aku agak kebingungan mesti mendengarkan lagu apa karena rasanya playlistku tidak banyak berubah dan aku merasa lagu-lagu yang aku dengar rasanya biasa-biasa saja. Kemudian aku menemukan lagu Two dari Sleeping at Last (SaL) dalam album Atlas:Enneagram--Two mengacu pada enneagram nomor dua. Aku jadi teringat, sewaktu membahas album ini, seorang teman bilang bahwa di internet ada kuis soal enneagram untuk mengetahui tipe enneagram yang manakah dirimu. Aku tidak tau apa itu enneagram, aku kira itu sejenis rangkaian bebunyian berjumlah sembilan, makanya SaL membuat album darinya. Waktu itu aku merasa cukup aneh sampai ada kuis perihal album tersebut.
Sampai tadi, sewaktu aku iseng mencari kuis enneagram itu di google; hingga aku menulis ini, aku belum mencari tau apa itu enneagram. Setidaknya dari apa yang aku jumpai, sepertinya enneagram adalah rangkaian tipe-tipe kepribadian berjumlah sembilan. Aku ingat beberapa, nomor dua itu "Lover", nomor empat itu "Individualist", nomor lima "Investigator", dan nomor sembilan "Peacemaker".
Aku ingat sewaktu membahas album ini aku bilang aku sempat mendengarkan semua lagunya, dan Two aku rasa paling cocok untuk kudengar. Pendapat ini keliru karena aku tidak benar-benar mendengar semua lagunya--aku mendengarnya, hanya saja aku tidak meresapinya. Aku tidak benar-benar memperhatikan melodi lagunya, aku tidak benar-benar membaca liriknya. Apa yang membuatku merasa Two menjadi cocok adalah karena bias perasaanku sewaktu membaca lirik pembukanya dikaitkan dengan pengalamanku dalam sebuah hubungan. Itu membuatku membaca keseluruhan liriknya dan jatuh pada penilaian soal kecocokan.
Sweetheart you look a little tired, when did you last eat?Liriknya manis, itu yang seorang teman lain pernah bilang waktu aku perdengarkan lagu itu. Tentu saja, aku membayangkan ada seseorang yang bertanya seperti itu padaku. Siapa yang tidak merasa beruntung bisa diperhatikan seperti itu?
Tell me, is something wrong? If something's wrong you can count on meLagu ini setidaknya selalu berhasil membawaku ke tahun 2019. Aku jatuh cinta pada seorang perempuan (aku yakin cukup sering membicarakannya). Sebagai seorang yang jatuh cinta, aku merasa harus bisa menjadi support system buat perempuan ini. Lirik ini cukup akurat menggambarkan aku waktu itu.
Sekarang aku mengerti kenapa Two rasanya seolah cocok. Selain karena kepiawaian SaL menggubah lagu berdasarkan jenis enneagram, enneagram nomor dua adalah "Lover". Aku tidak akan menyangkal kalau aku mungkin belum dewasa secara emosional, aku belum mampu menghadapi banyak hal, aku takut akan masa depan, dan segala macamnya. Tapi dulu, aku merasa harus mengesampingkan semua hal itu dan memilih menjadi seseorang yang cukup baik untuk bisa mendengarkan keluh kesah perempuan ini. Terutama mendampinginya di waktu-waktu terburuk. Waktu itu dia cukup sering melakukan self-harm, menyayat tangannya. Aku sebisa mungkin mencoba tidak menghakimi dan berusaha bertanya mengenai perasaannya setiap kali dia self-harm, mendengarkan ceritanya, menjadi support system yang baik. Mungkin karenanya bagian lirik yang ini cukup menancap padaku.I know exactly how the rule goes: Put my mask on first. No, I don't want to talk about myself--tell me where it hurts. I just want to build you up, build you up 'til you're good as new and maybe one day, I'll get around to fixing myself, too
Bagaimana hubungan kami sekarang, itu cerita lain. Tapi aku cukup memberitau kalau kami masih sering melakukan kontak. Jarak kami jauh, jadi hanya kontak lewat whatsapp yang bisa dilakukan. Aku menyerah padanya. Perempuan ini cukup sering membuatku patah hati, tapi bodohnya aku--seperti potongan lirik tadi--selalu mengenyampingkan itu semua dan selalu berusaha mendengarkan cerita-ceritanya. Lama-kelamaan aku merasa kalau ini bukan iklim hubungan yang baik buatku sebagai seorang yang jatuh cinta. Karenanya aku sering merasa kalah dan tidak pantas dicintai. Aku hanya ingin cintaku dibalas--aku cukup sering mendapati cinta bertepuk sebelah tangan dari dulu, dan aku mulai bosan. Aku kira dia bisa memberikan afeksi yang sama padaku. Tapi ketidakjelasan hubungan kami mungkin yang membuat segalanya jadi serba nanggung. Akhirnya belum lama ini kami berbicara, dan dia bilang "tidak". Dia merasa tidak cukup baik, apalagi karena "tragedi" terakhir yang ia alami. Aku tidak tau keseluruhan ceritanya karena aku merasa tidak sanggup mendengar cerita itu, tapi lelaki yang kemarin mendekatinya itu ternyata bangsat.
Kabar baiknya. kami masih berteman baik--dari dulu memang begitu. Oya, dia juga sudah sejak lama berhenti melakukan self-harm, dan semoga selamanya begitu.
and what a privilege it is to love, a great honor to hold you up.Akhirnya, malam ini aku memutuskan untuk mendengarkan album Atlas:Enneagram dari Sleeping at Last. Sembari mendengarkan, aku mengisi kuis enneagram. Hasilnya ternyata aku bukan tipe enneagram nomor dua.
i will love you without a single string attached.
Sial. Alih-alih menuliskan perihal renunganku sewaktu mengisi kuis tersebut, aku malah menuliskan involuntary memory yang muncul saat mengingat lagu Two. Tulisan ini bisa jadi lebih baik lagi seandainya aku banting setir menulis soal involuntary memory dan efek proust. Tapi, aku kira itu bahasan lain.
Komentar
Posting Komentar